Monday, September 24, 2012

Modul HB SAHLI PADA IBU HAMIL

By lryan Rc   Posted at  9/24/2012 01:59:00 PM   Ilmu Kesehatan No comments



HB SAHLI PADA IBU HAMIL




DISUSUN OLEH :

AYU SEPTIKA NURIARETA
22010053












SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
 MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
 PRODI DIII KEBIDANAN
T.A 2011/2012
KONSEP DASAR SCREENING


A.  PENGERTIAN
Screening adalah suatu strtegi yang digunkan dalam suatu populasi untuk mendeteksi penyakit pada individu tanpa tanda-tanda atau gejala penyakit itu, atau suatu usaha secara aktif untuk mendeteksi atau mencari pendeerita penyakit tertentu yang tampak gejala atau tidak tampak dalam suatu masyarakat atau kelompok tertentu melalui suatu tes atau pemeriksaan yang secara singkat dan sederhana dapat memisahkan mereka yang sehat terhadap mereka yang kemungkinan besar menderita, yang selanjutnya diproses melalui diagnosis dan pengobatan.

      Screening dapat didefinisikan sebagai pelaksanaan prosedur sederhana dan cepat untuk mengidentifikasikan  dan memisahkan orang yang tampaknya sehat, tetapi kemungkinan beresiko terkena penyakit, dari mereka yang mungkin tidak terkena penyakit tersebut. Screening dilakukan untuk mengidentifikasi mereka yang diduga mengidap penyakit sehingga mereka dapat dikirim untuk menjalani pemeriksaan medis dan studi diagnostik yang lebih pasti. 

Uji tapis bukan untuk mendiagnosis tapi untuk menentukan apakah yang bersangkutan memang sakit atau tidak kemudian bagi yang diagnosisnya positif dilakukan pengobatan intensif agar tidak menular dengan harapan penuh dapat mengurangi angka mortalitas.

Screening pada umumnya bukan merupakan uji diagnostic dan oleh karenanya memerlukan penelitian follow-up yang cepat dan pengobatan yang tepat pula.

B.  DASAR PEMIKIRAN ADANYA SKRINING
1.      Yang diketahui dari gambaran spectrum penyakit hanya sebagian kecil saja sehingga dapat diumpamakan sebagai puncak gunung es sedangkan sebagian besar masih tersamar.
2.      Diagnosis dini dan pengobatan secara tuntas memudahkan kesembuhan.
3.      Biasanya penderita datang mencari pengobatan setelah timbul gejala atau penyakit telah berada dlm stadium lanjut hingga pengobatan menjadi sulit atau bahkan tidak dapat disembuhkan lagi.
4.      Penderita tanpa gejala mempunyai potensi untuk menularkan penyakit.

C.  TUJUAN
1.   Deteksi dini penyakit tanpa gejala atau dengan gejala tdk khas terdapat pada orang yang tampak sehat,tapi mungkin menderita penyakit ( population risk)
2.   Dengan ditemukannya penderita tanpa gejala dapat dilakukan pengobatan secara tuntas hingga mudah disembuhkan dan tidak membahayakan dirinya maupun lingkungannya dan tidak menjadi sumber penularan hingga epidemic dapat dihindari
3.   Mendapatkan penderita sedini mungkin untuk segera memperolleh pengobatan.
4.   Mendidik masyarakat untuk memeriksakan diri sedini mungkin

E.  PRINSIP PELAKSANAAN
Proses Uji tapis terdiri dari dua tahap :
1.   Melakukan pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai resiko tinggi menderita penyakit dan bila hasil test negative maka dianggap orang tersebut tidak menderita penyakit.
2.   Bila hasil positif maka dilakukan pemeriksaan diagnostic

Pemeriksaan yang biasa digunakan untuk uji tapis dapat berupa pemeriksaan laborat atau radiologist misalnya :
1.   Pemeriksan gula darah
2.   Pemeriksaan radiology untuk uji tapis TBC

Pemeriksaan tersebut harus dapat dilakukan :
1.   Dengan cepat dapat memilah sasaran utk periksan lebih lanjut
2.   Tidak mahal
3.   Mudah dilakukan oleh petugas kesehatan
4.   Tidak membahayakan yang diperiksa maupun yang memeriksa


F.  MACAM SCREENING
1.   Penyaringan Massal (Mass Screening)
Penyaringan yang melibatkan populasi secara keseluruhan.
Contoh: screening prakanker leher rahim dengan metode IVA pada 22.000 wanita
2.   Penyaringan Multiple
Penyaringan yang dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik uji penyaringan pada saat yang sama.
Contoh: skrining pada penyakit aids
3.   Penyaringan yg. Ditargetkan
Penyaringan yg dilakukan pada kelompok – kelompok yang terkena paparan yang spesifik.
Contoh : Screening pada pekerja pabrik yang terpapar dengan bahan Timbal.
4.   Penyaringan Oportunistik
Penyaringan yang dilakukan hanya terbatas pada penderita – penderita yang berkonsultasi kepada praktisi kesehatan
Contoh: screening pada klien yang berkonsultasi kepada seorang dokter.

G.  KRITERIA UNTUK MELAKSANAKAN SCREENING
1.   Sifat Penyakit
-    Serius
-    Prevalensi tinggi pada tahap praklinik
-    Periode yg panjang diantara tanda – tanda pertama sampai timbulnya penyakit
2.   Uji Diagnostik
-    Sensitif dan Spesifik
-    Sederhana dan Murah
-    Aman dan Dapat Diterima
-    Reliable
-    Fasilitas adekwat
3.   Diagnosis dan Pengobatan
-    Efektif dan dapat diterima
-    Pengobatan g aman telah tersedia.



H.  LOKASI SCREENING
Uji tapis dapat dilakukan di lapangan,rumah sakit umum,rumah sakit khusus,pusat pelayanan khusus dll :
ü  RB BHAKTI IBU SRIKUNCORO,SEMAKA,TANGGAMUS
I.   VALIDITAS TES UJI SKRINING
Agar hasil pengukuran dari Penyaringan/Screening itu Valid, maka harus diukur dengan menggunakan Sensitivitas & Spesifitas;

a.   SENSITIVITAS
Adalah Proporsi dari orang – orang yang benar – benar sakit yang ada di dalam populasi yang disaring, yang diidentifikasi dengan menggunakan uji penyaringan sebagai penderita sakit.

b.   SPESIFISITAS
Adalah proporsi dari orang – orang yang benar – benar sehat, yang juga diidentifikasi dengan menggunakan uji penyaringan sebagai individu sehat.

J.   KRITERIA EVALUASI
Screening mengandalkan tes, tidak hanya satu tes, tetapi sederetan tes. Oleh karena itu, kegiatan screening hanya akan efektif bila tes dan pemeriksaan yang digunakan juga efektif. Dengan demikian, setiap tes memerlukan validitas dan reliabilitas yang kuat. Validitas tes ditunjukkan melalui seberapa baik tes secara aktual mengukur apa yang semestinya diukur. Jika ini adalah tes screening kolesterol, pertanyaannya adalah: dapatkah tes itu memberikan informasi yang cukup akurat sehingga individu dapat mengetahui tinggi atau rendahnya kadar kolesterolnya sekarang? Validitas ditentukan oleh sensitivitas dan spesifitas uji.

 Reliabilitas didasarkan pada seberapa baik uji dilakukan pada waktu itu—dalam hal keterulangannya (repeatibility). Dapatkah uji memberikan hasil yang dapat dipercaya setiap kali digunakan dan dalam lokasi atau populasi yang berbeda?

Yield (hasil) merupakan istilah lain yang terkadang digunakan untuk menyebut tes screening. Yield adalah angka atau jumlah screening yang dapat dilakukan suatu tes dalam suatu periode waktu—jumlah penyakit yang dapat terdeteksi dalam proses screening. Validitas suatu uji dapat dipengaruhi oleh keterbatasan uji dan sifat individu yang diuji. Status penyakit, keparahan, tingkat dan jumlah pajanan, kesehatan giz, kebugaran fisik, dan faktor lain yang mempengaruhi  dan berdampak pada responden dan temuan tes.

a.   Validitas : merupakan tes awal baik untuk memberikan indikasi individu mana yg benar sakit dan mana yang tidak sakit. Dua komponen validitas adalah sensitivitas dan spesifitas
b.   Reliabilitas : adalah bila tes yang dilakukan berulang ulang menunjukan hasil yang konsisten.
c.   Yield : merupakan jumlah penyakit yang terdiagnosis dan diobati sebagai hasil dari uji tapis.

K.  PERTIMBANGAN SCREENING
1.   Penyakit atau kondisi yang sedang diskrining harus merupakan masalah medis utama
2.   Pengobatan yang dapat diterima harus tersedia untuk individu berpenyakit yg terungkap saat proses skrining dilakukan (obat yang potensial).
3.   Harus tersedia akses kefasilitas dan pelayanan perawatan kesehatan untuk diagnosis dan pengobatan lanjut penyakit yang ditemukan.
4.   Penyakit harus memiliki perjalanan yang dapat dikenali dengan keadaan awal dan lanjutnya yang dapat diidentifikasi.
5.   Harus tersedia tes atau pemeriksaan yang tepat dan efektif untuk penyakit.
6.   Tes dan proses uji harus dapat diterima oleh masyarakat umum.
7.   Riwayat alami penyakit atau kondisi harus cukup dipahami termasuk fase regular dan perjalanan penyakit dengan periode awal yang dapat diidentifikasi melalui uji .
8.   Kebijakan ,prosedur dan tingkatan uji harus ditentukan untuk menentukan siapa yang harus dirujuk untuk pemeriksaan .diagnosis dan tindakan lebih lanjut.
9.   Proses harus cukup sederhana sehingga sebagian besar kelompok mau berpartisipasi.
10. Screening jangan dijadikan kegiatan yang sesekali saja ,tetapi harus dilakukan dalam proses yang teratur dan berkelanjutan.
11. alat yg digunakan
12. waktu
13. mendapat pengobatan
14. alat untuk diagnosis

L.  CARA TES SCREENING
Sebelum melakukan skrining terlebih deahulu harus ditentukan penyakit atau kondisi medis apa yang akan dicari pada skrining.



























Tes untuk skrining anemia

Secara klinis, anemia bisa didiagnosis dengan mudah bila derajat anemianya sudah berat. Untuk mendeteksi secara dini anemia, saat derajat anemianya masih ringan, diagnosis klinis akan menjadi kurang reliable karena biasanya dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya kulit yang tebal atau pigmentasi. Untuk itu, perlu pemeriksaan laboratorium, seperti pemeriksaan kadar Hb atau Hematokrit. Pemeriksaan ini berguna selain untuk konfirmasi diagnosis, juga dapat menentukan derajat berat-ringannya anemia. Pemeriksaan kadar Hb atau Hematokrit bisa digunakan untuk skrining anemia pada kelompok berisiko tinggi menderita anemia, seperti ibu hamil dan anak-anak; juga bermanfaat untuk menentukan prevalensi dan beban masalah anemia pada populasi.
Tes yang dapat dipercaya untuk mengukur kadar Hemoglobin adalah tes-tes yang dapat  mengkonversi Hb menjadi salah satu dari komponennya. Kadar komponen itu yang kemudian ditentukan dengan mencocokkan warna standar dalam fotometer atau dengan mengukur absorbsi komponen-komponen itu dalam spektrofotometer. Tiga teknik yang biasa dipakai adalah dengan cara mengukur komponen cyanmethemoglobin (Hb CN), oxyhemoglobin (HbO2) dan metode alkalin hematin. Pemeriksaan lain adalah pemeriksaan PRC/Hematokrit (Packed Red Cell). Keuntungan cara ini adalah tekniknya lebih sederhana utamanya jika jumlah sampel darah sedikit. Selain itu pemeriksaan ini bisa digunakan dilapangan dengan menggunakan mikrosentrifus bertenaga batrei. Rata-rata, secara kasar, nilai hemaktokrit adalah ekuivalen dengan 3 kali nilai Hb.
Perlu diingat bahwa sebelum menjadi anemia, penderita biasanya mengalami kekurangan zat besi dulu. Setelah menderita kekurangan zat besi dalam jangka waktu tertentu, barulah timbul anemia dan bisa terdeteksi oleh pemeriksaan tersebut di atas. Maka dikembangkan pemeriksaan-pemeriksaan khusus yang dapat mendeteksi kelainan pada tahap lebih dini lagi, yakni pada fase kekurangan zat besi. Tes-tes itu antara lain adalah tes serum feritin, saturasi transferin, protoporfirin dalam eritrosit. Pemeriksaan pada fase kekurangan zat besi ini, sangat cocok untuk memonitor status zat besi pada populasi (DeMaeyer, 1989).



TINJAUAN KASUS

IDENTITAS
                                    ISTRI                                      SUAMI
Nama               : Nya. Masiem                                    Tn. Slamet
Usia                 : 28 tahun                                           35 tahun
Agama             : Islam                                                Islam
Suku/Bangsa   : Jawa/Indonesia                                Jawa/Indonesia
Pendidikan      : Smp                                                  SD
Pekerjaan         : IRT                                                    Tani
Alamat                        : Srikuncoro                             Srikuncoro

SCREENING : Anemia pada ibu Hamil (test HB Sahli)

ALAT DAN BAHAN
1.      Hb Set
2.      Lanced
3.      Spuit 3 cc/ 5cc
4.      Kapas Alkohol
5.      Aquades
6.      Cairan HCL
7.      Kain kasa atau Kapas Alkohol
8.      Bengkok
9.      Baki dan Alasnya
10.  Laritan clorin 0,5%
11.  Hansdcoon

PELAKSANAAN
ü  Letakkan baki berisi alat-alat dimeja dekat pasien
ü  Penolong mencuci tangan dengan air bersih dan air mengalir,keringkan dengan handuk pribadi
ü  Penolong menggunakan handscoon
ü  Siapkan tabung Hb
ü  Isi dengan cairan HCL sebatas strip
ü  Komunikasikan terdahulu dengan pasien
ü  Desinfeksikan daerah yang akan ditusuk (ujung jari tangan )
ü  Tusuk jari dengan lancet
ü  Tekan darah agar keluar lalu usap dengan kasa satu kali usapan
ü  Takan lagi agar darah keluar lalu alirkan darah ke tabung sahli sampai batas yang telah ditentukan
ü  Masukan darah yang ada dalam tabung sahli kedalam tabung yang berisi HCL kemudian aduk
ü  Tambahkan Aquabides sampai darah dan cairan HCL menyamai warna standar lalu baca beberapa hasil kadar HB nya
ü  Bereskan alat,rendam lanced ,pipet,tabung Hb dan Handscoon kedalam larutan clorin 0,5% selama 10 menit
ü  Cuci tangan dengan air bersih dan mengalir,keringkan dengan handuk pribadi
ü  Beritahu pada pasien hasil pemeriksaan.




















BAB III
PENUTUP


1.      Kesimpulan
Anemia dalam kehamilan masih merupakan masalah yang memerlukan penanganan kusus karena angka kematian perinatal yang relative tinggi. Anemia  pada kehamilan akan mengakibatkan pengaruh yang buruk terhadap ibu seperti perdarahan, toksemia gravidarum, serta infeksi. Pengaruhnya terhadap bayi seperti kelainan kongenital, sindroma kegagalan pernapasan, kematian janin dalam kandungan, hiperbilirubinemia, makrosomia, hipoglikemia serta hipokalsemia. Sedangkan pada persalinan dapat terjadi: atonia uteri, inersia uteri, distosia bahu serta kelahiran mati, pengakhiran persalinan dengan tindakan.

2.      Saran
Setelah membaca makalah ini diharapkan umumnya pada ibu hamil untuk melakukan Hb Sahli untuk memantau hemoglobin dalam tubuh pada saat hamil.




Lryan Rc

Im Not Perfact But Im Limited Edition.
View all posts by: Lryan Rc

0 comments:

Back to top ↑
Gabung dengan Kami

Followers

Total Pageviews

© 2013 Lryan Rc. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9 Published..Blogger Templates
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.