Monday, September 24, 2012

Teori Manajemen Kebidanan

By lryan Rc   Posted at  9/24/2012 01:55:00 PM   KUMPULAN SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) No comments




Teori Manajemen Kebidanan
1.       Pengertian Manajemen Kebidanan
     Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis, mulai dari pengkajian, analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Sofyan, 2005).
     Manajemen kebidanan adalah suatu metode pengaturan, pengorganisasian pikiran dan tindakan dalam urutan logis, efektif, dan efisien baik bagi pasien maupun bidan sebagai petugas kesehatan (Depkes RI, 2006).
2.       Pengertian Asuhan Kebidanan
     Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan atau masalah dalam bidang kesehatan ibu masa hamil, persalinan, nifas, bayi setelah lahir, serta keluarga berencana (Sofyan, 2005).
3.       Konsep Dasar Manajemen Kebidanan
     Varney (2004) menjelaskan bahwa proses manajemen merupakan proses pemecahan masalah yang ditemukan oleh perawat-bidan pada awal tahun 1970-an. Proses ini memperkenalkan sebuah metode dengan pengorganisasian pemikiran dan tindakan-tindakan dengan urutan yang logis dan menguntungkan baik bagi klien maupun bagi tenaga kesehatan. Proses ini menguraikan bagaimana perilaku yang diharapkan dari pemberi asuhan. Proses manajemen ini bukan hanya terdiri dari pemikiran dan tindakan saja melainkan juga pemeriksaan pada setiap langkah agar pelayanan yang komprehensif dan aman dapat tercapai. Dengan demikian proses manajemen harus mengikuti aturan yang logis dan memberikan pengertian yang menyatakan pengetahuan, hasil temuan dan penilaian yang terpisah-pisah menjadi satu kesatuan yang berfokus pada manajemen klien.
     Proses manajemen terdiri dari 7 langkah yang berurutan di mana setiap langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu karangan lengkap yang dapat diuraikan lagi menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Pengumpulan Data Dasar
     Langkah pertama adalah pengumpulan sebuah data base yang lengkap untuk evaluasi pasien. Data base ini meliputi sejarah, pemeriksaan fisik dan pelvik jika diperlukan, meninjau diagram terbaru atau catatan lama rumah sakit, meninjau data laboratorium dan laporan dari penelitian pendukung, atau seluruh informasi penting dari seluruh sumber yang dapat menerangkan kondisi pasien.
     Bidan mengumpulkan data base awal yang lengkap walaupun pasien tersebut mengalami komplikasi yang menyebabkannya membutuhkan konsultasi dengan dokter untuk manajemen kolaboratif.
     Langkah satu dapat tumpang tindih dengan langkah lima atau enam (atau menjadi bagian pada urutan selanjutnya) pada saat data yang diperoleh dari tes laboratorium atau penelitian diagnostik lain. Kadang-kadang bidan perlu memulai data base awal yang lengkap untuk presentasi kepada dokter.
1)    Pengkajian
     Merupakan langkah awal yang digunakan sebagai landasan dalam proses asuhan kebidanan meliputi data subyektif dan data obyektif. Data tersebut akan digunakan untuk mengetahui permasalahan yang ada pada pasien. Hal-hal yang perlu dilaksanakan dalam pengkajian data penderita leiomyosarcoma adalah sebagai berikut:
a)   Data subyektif
     Merupakan pernyataan yang disampaikan oleh pasien dan dicatat sebagai kutipan langsung dan hanya mencatat tanda-tanda membuat suatu kesimpulan.
     Adapun data subyektif yang dikumpulkan pada pengkajian penderita leiomyosarcoma adalah sebagai berikut:
(1)      Identitas pasien
Mengajukan pertanyaan tentang:
                                                                        (a)     Nama pasien dan nama suami untuk mengetahui identitas pasien, dan suami sebagai orang yang bertanggung jawab dan sebagai kepala keluarga.
                                                                        (b)     Umur penderita untuk mengetahui apakah masih dalam usia subur atau tidak.
                                                                        (c)     Agama untuk memberi motifasi sesuai keyakinannya.
                                                                       (d)     Suku/bangsa untuk mengetahui ras.
                                                                        (e)     Pendidikan berhubungan dengan  daya pikir pasien, tingkat penerimaan terhadap informasi untuk mempermudah pemberian KIE.
                                                                         (f)     Pekerjaan untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi keluarga
                                                                        (g)     Alamat untuk mengetahui tempat tinggal atau domisili pasien.  
(2)      Keluhan utama
     Adalah keadaan atau alasan yang mendorong pasien datang ke tenaga kesehatan/rumah sakit.
     Keluhan utama pada penderita leiomyosarcoma pada awalnya tidak dapat dibedakan dengan mioma uteri biasa yaitu perdarahan abnormal yang berlangsung terus menerus dan dalam waktu lama (Sutoto, 2005).
(3)      Riwayat obstetri
     Meliputi riwayat menstruasi seperti menarche, siklus, dan lama menstruasi, kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu.
(4)      Riwayat kesehatan
     Menanyakan keadaan kesehatan pasien meliputi, riwayat kesehatan sekarang, keluhan utama yang dirasakan ibu dan riwayat penyakit yang diderita sekarang. Riwayat kesehatan yang lalu ditanyakan untuk mengetahui penyakit yang dulu pernah diderita serta riwayat operasi, selain itu riwayat kesehatan keluarga juga ditanyakan untuk menentukan adakah penyakit keturunan.
(5)      Riwayat sosial
     Riwayat perkawinan untuk mengetahui berapa kali klien menikah dan sudah berapa lama, respon keluarga untuk mengetahui tanggapan dan dukungan  keluarga terhadap penyakit yang diderita pasien, pengambilan keputusan dalam keluarga untuk mengetahui siapa yang berperan penting dalam pengambilan keputusan dalam keluarga.
(6)      Data kebiasaan sehari-hari
     Meliputi pengkajian gizi yang dikonsumsi sehari-hari, personal hygiene, pola hubungan sexual, serta kegiatan sehari-hari.
b)   Data Obyektif
     Merupakan data yang diperoleh dari hasil observasi, pemeriksaan dan penelaahan catatan keluarga, masyarakat dan lingkungan. Data-data obyektif yang dikumpulkan meliputi:
(1)      Pemeriksaan umum
Meliputi keadaan umum dan kesadaran klien.
(2)      Tanda-tanda vital
Meliputi tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu.
(3)      Status present
Dilakukan untuk mengetahui keadaan umum klien, yang meliputi:
(a)      Kepala: dikaji apakah ada kelainan pada kepala, apakah rambut mudah rontok atau untuk melihat status gizi.
(b)     Muka: dikaji apakah muka ada kelainan, tampak pucat atau ada oedem.
(c)      Mata: dikaji apakah sklera ikterik, apakah konjunctiva tampak anemis.
(d)     Hidung: apakah ada polip.
(e)      Mulut: apakah mulut bersih atau tidak, apakah ada karies pada gigi, maupun stomatitis.
(f)      Leher: apakah ada pembesaran kelenjar thyroid.
(g)     Telinga: apakah mengeluarkan serumen.
(h)     Dada: apakah ada kelainan pada payudara.
(i)       Abdomen: apakah ada luka bekas operasi dan adakah benjolan pada abdomen.
(j)       Genetalia: apakah ada pengeluaran cairan atau darah.
(k)     Ekstremitas : apakah ada kelainan, lengkap atau tidak ada oedem, reflek patella.
b.      Interpretasi Data Dasar
     Langkah kedua adalah interpretasi dari data menjadi masalah atau diagnosa yang teridentifikasi secara spesifik. Kata masalah dan diagnosa keduanya digunakan seperti halnya beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi dibutuhkan sebagai pertimbangan dalam mengembangkan rencana perawatan yang komprehensif kepada pasien.
     Masalah sering dikaitkan dengan bagaimana wanita mengalami kenyataan atas dignosisnya dan sering diidentifkasi oleh fokus bidan dalam menangani pasien secara individual.
     Mengidentifikasi masalah dari data yang ada untuk menentukan diagnosa yang akurat, terdiri dari:
1)      Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan.
Diagnosa kebidanan pada kasus ini adalah Nn.S umur 17 tahun dengan leiomyosarcoma post histerektomi.
2)      Masalah
Hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang ditemukan dari hasil pengkajian atau yang menyertai diagnosa.
Masalah yang mungkin timbul pada pasien adalah rasa cemas terhadap kondisinya setelah operasi.
3)      Kebutuhan
Adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh klien dan belum teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah.
Kebutuhan dapat muncul atau tidak tergantung dari hasil pengkajian yang kita temukan pada pasien.
Kebutuhan yang diperlukan oleh pasien antara lain:
a)      Dukungan moral
b)      Informasi tentang kondisinya
c)      Informasi tentang histerektomi
c.       Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
     Langkah ketiga adalah suatu hal untuk antisipasi, pencegahan jika mungkin, penantian dengan pengawasan penuh, dan persiapan untuk kejadian apapun. Langkah ini vital untuk perawatan yang aman.
     Diagnosa potencial adalah suatu pernyataan yang timbul berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifkasi. Langkah ini mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain, berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, untuk bersiap-siap bila diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.
     Diagnosa potensial yang mungkin timbul pada pasien adalah perdarahan spontan pascabedah.
     Antisipasi yang dilakukan oleh bidan secara mandiri adalah pengawasan ketat keadaan umum dan vital sign.
d.      Identifikasi Kebutuhan atau Tindakan Segera
     Langkah keempat menggambarkan sifat berkelanjutan dari manajemen proses tidak hanya selama perawatan primer atau kunjungan prenatal periodik, tetapi selama para bidan tersebut terus menerus bersama wanita.
     Menentukan klien terhadap tindakan yang segera dilakukan oleh bidan atau untuk konsultasi, kolaborasi serta melakukan rujukan terhadap penyimpangan yang abnormal.
     Dalam hal ini bidan dapat mengidentifikasi tindakan segera yang berupa kosultasi dengan dokter spesialis/melakukan rujukan apabila kemungkinan terjadi komplikasi dalam masa post operasi. Hal ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Tindakan ini bertujuan agar kegawatdaruratan yang dikhawatirkan dalam diagnosa potensial tidak akan terjadi.
e.      Perencanaan
     Langkah kelima adalah mengembangkan rencana perawatan yang komprehensif, ditentukan oleh langkah sebelumnya. Langkah ini adalah sebuah perluasan dari mengidentifikasi masalah dan diagnosa yang telah diantisipasi dan yang terbaru. Selain itu juga melibatkan usaha untuk memperoleh bagian tambahan dari data apapun yang hilang atau perlu untuk penyusunan data base.
     Suatu rencana perawatan yang komprehensif meliputi hal-hal yang diindikasikan oleh kondisi pasien dan masalah lain yang berkaitan. Juga panduan langkah-langkah antisipasi bagi wanita tentang apa yang diharapkan kemudian, pengajaran dan konseling pasien, dan rujukan lainnya untuk mengatasi masalah sosial, ekonomi, keagamaan, keluarga, budaya, atau psikologi.
     Merupakan rancangan upaya yang disusun untuk mengetahui suatu masalah. Tujuan yang ditetapkan dalam penyusunan rencana mencakup keadaan yang diharapkan dapat dicapai bila masalah dapat dipecahkan.
     Perencanaan asuhan kebidanan tidak hanya meliputi apa yang sudah terlihat dari kondisi pasien, dan masalah-masalah yang timbul saja tetapi juga tentang apa yang diperkirakan terjadi berikutnya, penyuluhan, konseling dan rujukan bila perlu. Rencana tindakan untuk kasus leiomyosarcoma post histerektomi adalah:
1)      Lakukan observasi keadaan umum dan vital sign pasien.
2)      Kolaborasi dengan dokter SpOG untuk terapi lanjut.
3)      Medikasi luka jahitan.
f.        Pelaksanaan
     Langkah keenam adalah pelaksanaan rencana perawatan yang komprehensif. Hal ini dapat dilaksanakan seluruhnya oleh bidan, dilakukan oleh wanita yang bersangkutan, atau anggota tim kesehatan lain. Jika bidan tidak melakukannya sendiri, ia bertanggung jawab atas penggarapan pelaksanaan.
     Dalam sarana di mana bidan berkolaborasi dengan dokter dan berkontribusi dalam manajemen perawatan pasien yang mengalami komplikasi maka bidan turut bertanggung jawab atas pelaksanaan rencana perawatan komprehensif kolaboratif. Pelaksanaan yang efisien akan mengurangi waktu dan biaya serta meningkatkan kualitas perawatan pasien.
     Kegiatan yang dilakukan mencakup rencana pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan tujuan yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan, dimonitor perkembangan dan perubahan yang terjadi diupayakan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
g.       Evaluasi
     Langkah ke tujuh adalah evaluasi, merupakan salah satu langkah pemeriksaan dari rencana perawatan, apakah kebutuhan yang teridentifikasi dalam masalah dan diagnosa. Rencana dianggap efektif jika hal di atas terlaksana. Menerima manajemen proses sebagai sesuatu yang terus berlanjut maka perlu untuk mendaur ulang tiap perawatan yang tidak efektif melalui manajemen proses untuk mengidentifikasi mengapa hal tersebut tidak efektif dan untuk menyesuaikan rencana perawatan berikutnya.
     Pada kasus leiomyosarcoma hasil evaluasi adalah pasien boleh pulang dengan anjuran untuk kontrol kembali.


Untuk Menjaga Hak Cipta Dari Isi Konten WEB Ini
Halaman Tidak Bisa Di copy Paste
Jika Anda Menginginkan Softcopy Atau File Yang Ada Di web Ini

Hubungi Kami Via Facebook
atau Via Email Lryanrc@gmail.com

Lryan Rc

Im Not Perfact But Im Limited Edition.
View all posts by: Lryan Rc

0 comments:

Back to top ↑
Gabung dengan Kami

Followers

Total Pageviews

© 2013 Lryan Rc. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9 Published..Blogger Templates
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.