HUBUNGAN STATUS EKONOMI KELUARGA DENGAN KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI (KPD) PADA IBU BERSALIN DI RUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) PRINGSEWU TAHUN 2012

Posted by Lryan Rc


HUBUNGAN STATUS EKONOMI KELUARGA DENGAN KEJADIAN KETUBAN PECAH DINI (KPD) PADA IBU BERSALIN  
DI RUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH (RSUD) PRINGSEWU
TAHUN 2012












Proposal Karya Tulis Ilmiah






Oleh:

TRI IRMASNANI
NPM: 022009053








SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN
TAHUN 2012
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi indikator pertama dalam menentukan derajat kesehatan anak (WHO, 2002).  WHO menyatakan bahwa setiap tahunnya 120 juta bayi lahir di dunia, secara global 4 juta (33 per seribu) bayi lahir mati (Stillbirth) dan 4 juta (33 per seribu) lainnya meninggal dalam usia 30 hari (neonatal lanjut). Sekitar 3,6 juta (3%) dari 120 juta bayi lahir mengalami asphyxia neonatorum, hampir 1 juta (27,78%) bayi ini meninggal.  Sebanyak 98% dari kematian bayi terjadi di Negara-negara yang sedang berkembang (Kosim, MS.2005).
Angka kematian Balita, bayi, maupun neonatal terus menurun. Angka kematian Balita menurun dari 97 pada tahun 1991 menjadi 44 per 1.000 kelahiran hidup (KH) pada tahun 2007 (SDKI) . Angka kematian bayi, menurun dari 68 menjadi 34 per 1. 000 KH pada periode yang sama. Angka kematian neonatal menurun dari 32 menjadi 19 kematian per 1.000 KH. Sementara target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 adalah 32/1.000 KH untuk Angka Kematian Balita dan 23/1.000 KH untuk angka kematian bayi (Depkes RI, 2010).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia berada pada peringkat tertinggi di negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Sewaktu AKI di Indonesia tahun 2002 mencapai 307/100.000 kelahiran hidup, angka ini 65 kali kematian ibu di Singapura, 9,5 kali dari Malaysia. Bahkan 2,5 kali lipat dari indeks Filipina. Angka tersebut telah mengalami penurunan pada tahun 2005 menjadi 290,8/ 100 ribu kelahiran hidup (Depkes RI, 2005). Pada saat itu target yang diharapkan pada tahun 2010 adalah Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 125/100 ribu kelahiran hidup melalui pelaksanaan MPS (Making Pregnancy Safer) dengan salah satu pesan kunci yaitu setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat (Depkes RI, 2007).  Berdasarkan SDKI survei terakhir tahun 2007 AKI Indonesia sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup, dimana setiap 7 jam 2 orang ibu meninggal karena kelahiran yang berarti setiap hari 38 orang ibu meninggal karena persalinan atau setiap bulan 20.000 nyawa ibu melayang karena melahirkan. Sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) adalah sebesar 226 per 100.000 Kelahiran Hidup. Target tahun 2014 adalah 110/100.000 KH (Depkes RI, 2010).
Syaifuddin (2001) menyebutkan bahwa 90% kematian ibu terjadi di saat persalinan dan kira-kira 95% penyebab kematian ibu adalah komplikasi obstetri yang sering tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Sarwono (2008) menyebutkan bahwa salah satu penyebab kematian obstetri berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi korioamnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi pada ibu, dimana salah satunya adalah terjadinya Ketuban Pecah Dini (KPD) (Mochtar, 2002).
Insidensi ketuban pecah dini terjadi 10% pada semua kehamilan. Pada kehamilan aterm insidensinya bervariasi 6-19%, sedangkan pada kehamilan preterm insidensinya 2% dari semua kehamilan. Hampir semua ketuban pecah dini pada kehamilan preterm akan lahir sebelum aterm atau persalinan akan terjadi dalam satu minggu setelah selaput ketuban pecah. 70% kasus ketuban pecah dini terjadi pada kehamilan cukup bulan, sekitar 85% morbiditas dan mortalitas perinatal disebabkan oleh prematuritas, ketuban pecah dini berhubungan dengan penyebab kejadian prematuritas dengan insidensi 30-40% (Sualman, 2009).
Penyebab ketuban pecah dini ini pada sebagian besar kasus tidak diketahui. Banyak penelitian yang telah dilakukan beberapa dokter menunjukkan infeksi sebagai penyebabnya. Faktor lain yang mempengaruhi adalah kondisi sosial ekonomi rendah yang berhubungan dengan rendahnya kualitas perawatan antenatal, penyakit menular seksual misalnya disebabkan oleh chlamydia trachomatis dan nescheria gonorrhea. Selain itu infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban, fisiologi selaput amnion/ketuban yang abnormal, servik yang inkompetensia, serta trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisposisi atau penyebab terjadinya ketuban pecah dini. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual dan pemeriksaan dalam (Sualman, 2009).
Komplikasi paling sering terjadi pada ketuban pecah dini sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Resiko infeksi meningkat pada kejadian ketuban pecah dini. Semua ibu hamil dengan ketuban pecah dini prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada ketuban pecah dini (Ayurai, 2010).
Siregar (2011) yang meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ketuban pecah dini di Rumah Sakit Umum Daerah Padangsidimpuan menyimpulkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya ketuban pecah dini di Rumah Sakit Umum Daerah Padang Sidimpuan adalah ekonomi keluarga (70,2%), paritas (63,8%).
Hasil pre survey yang penulis lakukan di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pringsewu pada minggu kedua dan ketiga bulan Maret 2012 diketahui bahwa jumlah persalinan pada tahun 2010 sebanyak 595 persalinan dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 916 persalinan.  Sedangkan pada tahun 2012 (Maret) jumlah persalinan sebanyak 36 persalinan, dari jumlah tersebut 20 diantaranya (55,5%) merupakan persalinan dengan kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD). Sementara dilihat dari sosial demografi berdasarkan pekerjaan sebagian besar ibu yang bersalin dengan KPD adalah ibu rumah tangga yang memiliki anak lebih dari satu (multigravida).
Berdasarkan beberapa uraian masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang hubungan status ekonomi keluarga dengan kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD) pada ibu bersalin di Ruang Kebidanan RSUD Pringsewu tahun 2012.

B.     Rumusan Masalah

Dilihat dari identifikasi masalah di atas maka rumusan masalah yang peneliti buat adalah: “apakah ada hubungan status ekonomi keluarga dengan kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD) pada ibu bersalin di Ruang Kebidanan RSUD Pringsewu tahun 2012”

C.    Tujuan Penelitian

1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan status ekonomi keluarga dengan kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD) pada ibu bersalin di Ruang Kebidanan RSUD Pringsewu tahun 2012.
2.      Tujuan Khusus
1.      Untuk mengetahui distribusi frekuensi ekonomi keluarga responden yang bersalin di Ruang Kebidanan RSUD Pringsewu tahun 2012.
2.      Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian ketuban pecah dini (KPD) di Ruang Kebidanan RSUD Pringsewu tahun 2012.
3.      Untuk mengetahui hubungan status ekonomi keluarga dengan kejadian ketuban pecah dini (KPD) di RSUD Pringsewu tahun 2012.





D.    Ruang Lingkup Penelitian

Adapun yang menjadi ruang lingkup dari penelitian hubungan status ekonomi keluarga dengan kejadian Ketuban Pecah Dini adalah:
1.     Jenis Penelitian        :  Observasional
2.     Objek Penelitian      :  Semua ibu bersalin
3.     Lokasi Penelitian     :  Ruang Kebidanan RSUD Pringsewu
4.     Variabel Penelitian  :  Pada penelitian ini terdapat dua variabel yang akan diteliti yaitu ekonomi keluarga dan KPD.

E.     Manfaat Penelitian

1.      Bagi Institusi Pendidikan
Memperkaya Khasanah ilmiah dalam bidang kebidanan khususnya tentang sosial ekonomi kaitannya dengan kejadian Ketuban Pecah Dini.
2.      Bagi Tempat Penelitian
Sebagai bahan masukan untuk antisipasi dan pencegahan terhadap peningkatan kejadian Ketuban pecah dini di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu.
3.      Bagi Peneliti
Sebagai wawasan keilmuan dan pengalaman dalam menganalisa serta melatih pola pikir untuk bahan dasar dalam pemecahan masalah dalam bidang kesehatan masyarakat khususnya pada ibu bersalin dengan kejadian KPD.

F.     Keaslian Penelitian

Penelitian sebelumnya tentang ketuban pecah dinding telah dilakukan oleh:
1.      Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dyaningrum mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ketuban pecah dini di Rumah Sakit Ibu dan Anak Insani Surabaya, beda penelitian yang dilakukan sebelumnya yaitu pada alat dan cara ukur  serta jenis penelitian. Alat ukur yang digunakan lembar checklist dan observasi serta jenis penelitian eksperimen, sedangkan dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian observasional.
2.      Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang berjudul: “Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ketuban pecah dini di RSUD Padangsidempuan”. Beda penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yaitu pada variabel independen bukan meneliti sosial demografi dan menggunakan rancangan penelitian dengan menggunakan case control. Sedangkan dalam penelitian ini peneliti menggunakan cross sectional.
3.      Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Solehatun mengenai “Hubungan Paritas dengan Ketuban Pecah Dini di Ruang Kebidanan RSUD Pringsewu”. Beda penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yaitu pada variabel independen bukan meneliti sosial demografi namun paritas. Sedangkan dalam penelitian ini peneliti hanya meneliti tentang faktor ekonomi keluarga serta dengan menggunakan jenis penelitian observasional.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.    Persalinan

1.      Pengertian
Persalinan adalah proses di mana bayi, plasenta, selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah kehamilan 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit (Winknjosastro, 2008). Helen Varney mengatakan persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks, dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Varney, 2007).

Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup  bulan,  lahir  spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, 2006). Tanda-tanda persalinan yaitu rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur, keluar darah lendir yang banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks, terkadang ketuban pecah dengan sendirinya, pada pemeriksaan dalam didapat serviks yang mendatar dan pembukaan jalan sudah ada (Yeyeh, Ai, 2009).

Proses dinamik dari persalinan meliputi empat komponen yang saling berkaitan yang mempengaruhi baik mulainya dan kemajuan persalinan. Empat komponen ini adalah passanger (janin), passage (pelvis ibu), power (kontraksi uterus),  dan  Psikis  (status  emosi  ibu).  Bila  persalinan  dimulai,  interaksi antara passanger, passage, power, dan psikis harus sinkron untuk terjadinya kelahiran pervaginam spontan (Wlash, linda, 2007).

Jadi persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang dapat hidup di dunia luar melalui jalan lahir atau jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan.

2.      Proses Persalinan
Proses persalinan adalah proses alamiah, dimana terjadi dilatasi serviks, lahirnya bayi dan plasenta dari rahim ibu (Waspodo, Djoko, 2007).

Prawihardjo (2002 menyatakan bahwa proses persalinan dapat dibagi dalam 4 kala, yaitu:
1.      Kala I (Kala Pembukaan)
Kala I merupakan kala persalinan yang dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan lengkap yaitu pembukaan 10 cm (Waspodo, Djoko, 2007). 

Proses membukanya serviks sebagai akibat his dibagi dalam 2 fase
1)      Fase laten berlangsung selama 8 jam, yaitu dari pembukaan 0-3 cm
2)      Fase aktif dibagi menjadi 3 fase lagi, yaitu:
a)      Fase akselerasi: dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm
b)      Fase dilatasi maksimal: dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.
c)      Fase deselerasi: pembukaan menjadi lambat kembali, dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.
Kala I selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap.  Pada primigravida kala 1 berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multigravida ± 16 jam.

2.      Kala II (Kala pengeluaran)
Kala II merupakan kala persalinan yang dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi.  Kala II dikenal juga sebagai kala pengeluaran.
Pusdiknakes-WHO-JHPIEGO (2001) menyatakan bahwa tanda-tanda kala dua persalinan sudah ialah:
1)      Ibu merasa ingin meneran
2)      Perineum menonjol
3)      Ibu kemungkinan merasa ingin buang air besar
4)      Lubang vagina dan sphineter anus membuka
5)      Jumlah pengeluaran air ketuban meningkat
Pada primi, kala II berlangsung kira-kira 2 jam, sedangkan pada multi kira-kira 1 jam (Sarwono, 2002).

3.      Kala III (Kala Uri)
Kala III merupakan kala persalinan yang dimulai setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit (Sarwono, 2002). Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan fundus uterus agak di atas pusat.  Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta akan lepas setelah 6-15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah.
4.      Kala IV
Kala IV merupakan kala persalinan yang dimulai sejak lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum (Sarwono, 2002). Kala ini dianggap perlu untuk mengantisipasi terjadinya perdarahan postpartum.

B.     Sosial Ekonomi Keluarga

1.      Pengertian
Secara bahasa ekonomi terdiri dari dua kata yaitu ekonomi dan keluarga. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa ekonomi merupakan tingkah laku manusia secara individu atau bersama-sama dalam menggunakan faktor-yang mereka butuhkan. Adapun keluarga adalah suatu satuan kekerabatan yang juga merupakan satuan tempat yang ditandai oleh adannya kerja sama ekonomi dan mempunyai fungsi untuk berkehidupan, bersosialisasi atau mendidik anak dan menolong serta melindungi yang lemah khususnya merawat orang tua mereka yang telah lanjut usia.

Dalam bentuk yang paling sederhana, keluarga terdiri dari seorang laki-laki dan perempuan ditambah dengan anak-anak mereka yang tinggal dalam satu rumah yang sama. Bentuk keluarga yang demikian dalam antropologi dinamakan sebagai keluarga inti. Keluarga inti dapat berubah menjadi keluarga luas oleh adanya tambahan anggota dari sejumlah orang lain, baik sekerabat maupun  yang bukan yang secara bersamaan hidup pada alam satu rumah dan menjadi anggota dalam keluarga inti.

2.      Fungsi Ekonomi Keluarga
Keluarga berfungsi sebagai unit ekonomi, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan kebutuhan material lainnya. Keadaan ekonomi keluarga yang baik juga turut mendukungdan berperan dalam perkembangan anak, sebab dengan kondisi tersebut anak akan berada dalam keadaan material yang lebih luas sehingga banyak mendapat kesempatan untuk mengembangkan berbagai kecakapan yang dimilikinya. Dengan demikian kondisiekonomi keluarga yang baik akan membantu anak dalam mencapai prestasi yang maksimal dalam belajarnya.

3.      Keadaan Ekonomi Keluarga
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan pemilihan penolong persalinan. Ibu yang akan melahirkan selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya juga harus mempersiapkan kebutuhan untuk masa persalinan, misal makanan, perlindungan, kesehatan dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas kesehatan yang layak seperti penolong persalinan, obat-obatan dan persiapan kemungkinan persalinan dengan penyulit serta sarana pelengkap persalinan yang lain. Fasilitas tersebut dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai penghasilan yang cukup dan kondisi yang demikian kemungkinan dapat memotivasi persalinan ibu lebih baik (Ryana, 2008).

Dari hasil penelitian Bangsu (1995) menyebutkan bahwa status ekonomi keluarga dan lingkungan sosial terbukti mempunyai hubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan dan kejadian KPD.

Rahayu (2010) dalam penelitiannya mengenai analisis faktor yang berhubungan dengan kejadian KPD di Ruang Bersalin RSD DR. Soebandi Jember-Jawa Timur diperoleh hasil uji statistik berdasarkan Chi Square dan Odds Ratio dimana sebagian besar responden berusia antara 25-34 tahun, hamil tunggal, tidak mengalami kelainan letak, dan multigravida. Uji statistik Chi Square diperoleh hasil tidak ada hubungan antara kelainan letak janin dengan KPD (p= 0,740 dengan p= 0,05) dan tidak ada hubungan antara multigravida dengan kejadian KPD (nilai p= 0,631 dengan p= 0,05).

Selanjutnya penelitian Kurnia (2011) menyimpulkan bahwa terdapat 23,1% kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD) di RSUD DR. M.  Soewandhie Surabaya perioade Januari-Juni 2011, dimana sebagian besar responden yang mengalami KPD bersalin secara preterm. Uji korelasi menunjukkan kejadian KPD berhubungan dengan persalinan preterm (p=0,030) dan dari  hasil uji statistik didapatkan nilai OR=1,981 (95% CI=1,105 & 3,551) p=0,030.

Siregar (2011) yang meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ketuban pecah dini di Rumah Sakit Umum Daerah Padangsidimpuan menyimpulkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya ketuban pecah dini di Rumah Sakit Umum Daerah Padang Sidimpuan adalah ekonomi keluarga (70,2%), paritas (63,8%).
4.      Pengertian Upah Minimum Regional (UMR)

Upah Minimum Regional adalah suatu standar minimum yang digunakan oleh para pengusaha atau pelaku industri untuk memberikan upah kepada pegawai, karyawan atau buruh di dalam lingkungan usaha atau kerjanya. Pemerintah mengatur pengupahan melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989 tanggal 29 Mei 1989 tentang Upah Minimum.

Penetapan upah dilaksanakan setiap tahun melalui proses yang panjang. Mula-mula Dewan Pengupahan Daerah (DPD) yang terdiri dari birokrat, akademisi, buruh dan pengusaha mengadakan rapat, membentuk tim survei dan turun ke lapangan mencari tahu harga sejumlah kebutuhan yang dibutuhkan oleh pegawai, karyawan dan buruh. Setelah survei di sejumlah kota dalam propinsi tersebut yang dianggap representatif, diperoleh angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL) - dulu disebut Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Berdasarkan KHL, DPD mengusulkan upah minimum regional (UMR) kepada Gubernur untuk disahkan. KOmponen kebutuhan hidup layak digunakan sebagai dasar penentuan upah minimum berdasarkan kebutuhan hidup pekerja lajang (belum menikah).

Saat ini UMR juga dienal dengan istilah Upah Minimum Propinsi (UMP) karena ruang cakupnya biasanya hanya meliputi suatu propinsi. Selain itu setelah otonomi daerah berlaku penuh, dikenal juga istilah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).

UMP Lampung ini meningkat dari Rp855.000,- pada tahun 2011 menjadi Rp. 975.000,- dengan kenaikan sebesar 115.000 (Disnakertrans Lampung Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Lampung, 2012). Sedangkan untuk Kabupaten Pringsewu sebesar Rp.855.000,- per bulan.


C.    Ketuban Pecah Dini (KPD)

1.      Pengertian
Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu maka disebut ketuban pecah dini pada kehamilan prematur (Sarwono, 2008).

Menurut Manuaba (2008) Ketuban pecah dini atau premature rupture of the membranes (PROM) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum adanya tanda- tanda persalinan. Sebagian besar ketuban pecah dini terjadi diatas 37 minggu kehamilan, sedangkan dibawah 36 minggu tidak terlalu banyak.

2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Ketuban Pecah Dini
Meskipun banyak publikasi tentang ketuban pecah dini (KPD), namun penyebabnya secara langsung masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan  ketuban  pecah  dini,  namun  faktor-faktor  yang  lebih  berperan  sulit diketahui (Sualman, 2009). Faktor-faktor predisposisi itu antara lain adalah:
a.       Infeksi (amnionitis atau korioamnionitis).
Korioamnionitis adalah keadaan pada perempuan hamil dimana korion, amnion dan cairan ketuban terkena infeksi bakteri. Korioamnionitis merupakan komplikasi paling serius bagi ibu dan janin, bahkan dapat berlanjut menjadi sepsis (Sarwono, 2008).
Membrana khorioamnionitik terdiri dari jaringan viskoelastik. Apabila jaringan ini dipacu oleh persalinan atau infeksi maka jaringan akan menipis dansangat  rentan  untuk  pecah  disebabkan  adanya  aktivitas  enzim  kolagenolitik (Sualman, 2009).

Grup B streptococcus mikroorganisme yang sering menyebabkan amnionitis. Selain itu Bacteroides fragilis, Lactobacilli dan Staphylococcus epidermidis adalah bakteri-bakteri yang sering ditemukan pada cairan ketuban pada kehamilan preterm. Bakteri-bakteri tersebut dapat melepaskan mediator inflamasi yang menyebabkan kontraksi uterus. Hal ini menyebabkan adanya perubahan  dan  pembukaan  serviks,  dan  pecahnya  selaput  ketuban  (Sualman, 2009).

Jika terdiagnosis korioamnionitis, perlu segera dimulai upaya untuk melahirkan janin sebaiknya pervaginam. Sayangnya, satu-satunya indikator yang andal untuk menegakkan diagnosis ini hanyalah demam; suhu tubuh 38ºC atau lebih, air ketuban yang keruh dan berbau yang menyertai pecah ketuban  yang menandakan infeksi (Cunningham, 2006).
b.      Infeksi genitalia
Meskipuchlamydia  trachomatis  adalah  patogen  bakteri paling  umum yang ditularkan lewat hubungan seksual, tetapi kemungkinan pengaruh infeksi serviks oleh organisme ini pada ketuban pecah dini dan kelahiran preterm belum jelas. Pada wanita yang mengalami infeksi ini banyak mengalami keput ihan saat hamil  juga  mengalami  ketuban  pecah  dini  kurang  dari  satu  jam  sebelum persalinan dan mengakibatkan berat badan lahir rendah (Cunningham, 2006).

Seorang wanita lebih rentan mengalami keputihan pada saat hamil karena pada saat hamil terjadi perubahan hormonal yang salah satu dampaknya adalah peningkatan jumlah produksi cairan dan penurunan keasaman vagina serta terjadi pula perubahan pada kondisi pencernaan. Keputihan dalam kehamilan sering dianggap sebagai hal yang biasa dan sering luput dari perhatian ibu maupun petugas  kesehatan  yang  melakukan  pemeriksaan  kehamilan.  Meskipun  tidak semua keputihan disebabkan oleh infeksi, beberapa keputihan dalam kehamilan dapat berbahaya karena dapat menyebabkan persalinan kurang bulan (prematuritas), ketuban pecah sebelum waktunya atau bayi lahir dengan berat badan rendah (< 2500 gram). Sebagian wanita hamil tidak mengeluhkan keputihannya karena tidak merasa terganggu padahal keputihanya dapat membahayakan kehamilannya, sementara wanita hamil lain mengeluhkan gejala gatal yang sangat, cairan berbau namun tidak berbahaya bagi hasil persalinannya. Dari berbagai macam keputihan yang dapat terjadi selama kehamilan, yang paling sering  adalakandidiosis  vaginalis,  vaginosisbakterial  dan  trikomoniasi. (Sualman, 2009).

Dari NICHD Maternal-fetal Medicine Units network Preterm prediction Study melaporkan bahwa infeksi klamidia genitourinaria pada usia gestasi 24 minggu yang dideteksi berkaitan dengan peningkatan kejadian ketuban pecah dini dan kelahiran preterm spontan sebesar dua kali lipat setelah terinfeksi bakteri ini (Cunningham, 2006).

Infeksi akut yang sering menyerang daerah genital ini termasuk herpes simpleks dan infeksi saluran kemih (ISK) yang merupakan infeksi paling umum yang mengenai ibu hamil dan sering menjadi faktor penyebab pada kelahiran preterm dan bayi berat badan rendah. Pecah ketuban sebelum persalinan pada preterm dapat berhubungan dengan infeksi maternal. Sekitar 30% persalinan preterm disebabkan oleh infeksi dan mendapat komplikasi dari infeksi tersebut (Chapman, 2006).

Pada kehamilan akan terjadi peningkatan pengeluaran cairan vagina dari pada biasanya yang disebabkan adanya perubahan hormonal, maupun reaksi alergi terhadap zat tertentu seperti karet kondom, sabun, cairan pembersih vagina dan bahan pakaian dalam. Keputihan pada kehamilan juga dapat terjadi akibat adanya pertumbuhan berlebihan sel-sel jamur yang dapat menimbulkan infeksi didaerah genital. Keputihan akibat infeksi yang terjadi pada masa kehamilan akan meningkatkan resiko persalinan prematur dan ketuban pecah dan janinnya juga mengalami infeksi (Ocviyanti, 2010).

Menurut Sarwono, (2008) persalinan preterm terjadi tanpa diketahui penyebab yang jelas, infeksi diyakini merupakan salah satu penyebab terjadinya ketuban pecah dini dan persalinan preterm. Vaginosis bakterial adalah sindrom klinik akibat pargantian laktobasilus penghasil H2O2 yang merupakan flora normal vagina dengan bakteri anaerob dalam konsentrasi tinggi seperti gardnerella vaginalis, yang akan menimbulkan infeksi. Keadaan ini telah lama dikaitkan dengan kejadian ketuban pecah dini, persalinan preterm dan infeksi amnion, terutama bila pada pemeriksaan pH vagina lebih dari 5,04 yang normalnya nilai pH vagina adalah antara 3,8-4,5. Abnormalitas pH vagina dapat mengindikasikan adanya infeksi vagina.
Herpes simpleks adalah virus menular seksual yang jarang tetapi serius yang  bisa  tetatidak  aktif  sampai  orang  mengalami  stres  atatidak  sehat. Biasanya merupakan kondisi kronis dan kambuhan serta bisa berat bagi bayi baru lahir. Infeksi herpes primer biasanya menyebabkan demam ringan dan perasaan tidak sehat. Muncul lesi yang menimbulkan nyeri sekitar genital internal dan eksternal/serviks, ulserasi, dan biasanya sembuh dalam tiga minggu (Chapman, 2006).

Herpes aktif bisa terdiagnosa dengan inspeksi klinis didaerah genital untuk lesi yang tampak (internal/eksternal) pada saat awitan persalinan atau pecah ketuban spontan. Sectio saeraria merupakan satu-satunya indikasi bila infeksi masih aktif sehingga lesinya jelas.
c.       Serviks yang tidak lagi mengalami kontraksi (inkompetensia), didasarkan pada adanya ketidakmampuan serviks uteri untuk mempertahankan kehamilan. Inkompetensi serviks sering menyebabkan kehilangan kehamilan pada trimester kedua. Kelainan ini dapat berhubungan dengan kelainan uterus yang lain seperti septum uterus dan bikornis. Sebagian besar kasus merupakan akibat dari trauma bedah pada serviks pada konisasi, produksi eksisi loop elektrosurgical, dilatasi berlebihan serviks padterminasi kehamilan atau  laserasi obstetri(Sarwono, 2008).

Diagnosa inkompetensi serviks ditegakkan ketika serviks menipis dan membuka tanpa disertai nyeri pada trimester kedua atau awal trimester ketiga kehamilan. Umumnya, wanita datang kepelayanan kesehatan dengan keluhan perdarahan pervaginam, tekanan pada panggul, atau ketuban pecah dan ketika diperiksa serviksnya sudah mengalami pembukaan. Bagi wanita dengan inkompetensi serviks, rangkaian peristiwa ini akan berulang pada kehamilan berikutnya,  berapa  pun  jarak  kehamilannya.  Secara  tradisi,  diagnosis inkompetensia serviks ditegakkan berdasarkan peristiwa yang sebelumnya terjadi, yakni  minimal  dua  kali  keguguran  pada  pertengahan  trimester  tanpa  disertai awitan persalinan dan pelahiran (Verney, 2006).
Faktor resiko inkompetensi serviks meliputi riwayat keguguran pada usia kehamilan 14 minggu atau lebih, adanya riwayat laserasi serviks menyusul pelahiran pervaginam atau melalui operasi sesar, adanya pembukaan serviks berlebihan disertai kala dua yang memanjang pada kehamilan sebelumnya, ibu berulang kali mengalami abortus elektif pada trimester pertama atau kedua, atau sebelumnya ibu mengalami eksisi sejumlah besar jaringan serviks (conization) (Verney, 2006).

Apabila seorang wanita mempunyai riwayat keguguran pada trimester kedu atau  pad awal  trimeste ketiga,   konsultasi  dengan  dokter  mut lak diperlukan. Jika seorang wanita datang ketika sudah terjadi penipisan serviks, pembukaan, tekanan panggul, atau perdarahan pervaginam yang sebabnya tidak diketahui, maka ia perlu segera mendapat penatalaksanaan medis.
d.      Trauma juga diyakini berkaitan dengan terjadinya ketuban pecah dini. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual saat hamil baik dari frekuensi yang lebih dari 3 kali seminggu, posisi koitus yaitu suami diatas dan penetrasi penis yang sangat dalam sebesar 37,50% memicu terjadinya ketuban pecah dini, pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis dapat menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini karena biasanya disertai infeksi. Kelainan letak janin misalnya letak lintang, sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah (Sualman, 2009).

Menurut  Manuaba  (2008)  hubungan  seksual  selama  hamil  memiliki banyak dampak terhadap kehamilan. Pada trimester pertama kehamilan biasanya gairah seks mengalami penurunan. Hal ini terjadi akibat ibu didera mual, muntah, lemas, malas dan apapun yang bertolak belakang dengan semangat libido. Tetapi trimester kedua umumnya libido timbul kembali, tubuh ibu telah dapat menerima kembali, tubuh telah terbiasa dengan kondisi kehamilan sehingga ibu dapat menikmati aktifitas dengan lebih leluasa dari pada trimester pertama. Mual- muntah dan segala rasa tidak enak biasanya sudah jauh berkurang demikian pula urusan hubungan seksual. Ini akibat meningkatnya pengalihan darah ke organ- organ seksual seperti vagina  dan payudara.  Memasuki trimester  ketiga minat/libido menurun kembali, tetapi hal ini tidak berlaku pada semua wanita hamil. Tidak sedikit wanita yang libidonya sama seperti trimester sebelumnya, hal ini normal sebab termasuk beruntung karena tidak tersiksa oleh kaki bengkak, sakit kepala, sakit punggung dan pinggul, berat badan yang semakin bertambah atau keharusan istirahat total.

Frekuensi koitus pada trimester ketiga kehamilan yang lebih dari tiga kali seminggu diyakini berperan pada terjadinya ketuban pecah dini, hal ini berkaitan dengan kondisi orgasme yang memicu kontraksi rahim, namun kontraksi ini berbeda  dengan  kontraksi  yang  dirasakan  menjelang  persalinan.  Selain  itu, paparan terhadaap hormon prostaglandin didalam semen (cairan sperma) juga memicu kontraksi yang walaupun tidak berbahaya bagi kehamilan normal, tetapi harus tetap diwaspadai jika memiliki resiko melahirkan prematur. Oleh sebab itu, Seno, (2008) menjelaskan bahwa pada kehamilan tua untuk mengurangi resiko kelahiran preterm maupun ketuban pecah adalah dengan mengurangi frekuensi hubungan  seksual  atau  dalam  keadaan  betul-betul  diperluka n  wanita  tidak orgasme meski menyiksa. Tapi jika tetap memilih koitus, keluarkanlah sperma diluar dan hindari penetrasi penis yang terlalu dalam serta pilihlah posisi berhubungan yang aman agar tidak menimbulkan penekanan pada perut ataupun dinding rahim.

Mengurangi frekuensi koitus yang sejalan dengan meminimalkan orgasme selain dapat mengurangi terjadinya ketuban pecah dini, dapat pula mengurangi penekanan pembuluh darah tali pusat yang membawa oksigen untuk janin, sebab penekanan yang berkepanjangan oleh karena kontraksi pada pembuluh darah uri dapat menyebabkan gawat janin akibat kurangnya supply oksigen ke janin.

e.       Faktor paritas, terbagi menjadi primipara dan  multipara. Primipara adalah wanita yang pernah hamil sekali dengan janin mencapai titik mampu bertahan hidup.  Ibu  primipara  yang  mengalami  ketuban  pecah  dini  berkaitan  dengan kondisi psikologis, mencakup sakit saat hamil, ganggua n fisiologis seperti emosi dan termasuk kecemasan akan kehamilan (Cunninghan, 2006).

Selain itu, hal ini berhubungan dengan aktifitas ibu saat hamil yaitu akhir triwulan kedua dan awal triwulan ketiga kehamilan yang tidak terlalu dibatasi dan didukung  oleh  faktor  lain  seperti keputihaatau  infeksi  maternal.  Sedangkan multipara adalah wanita yang telah beberapa kali mengalami kehamilan dan melahirkan anak hidup. Wanita yang telah melahirkan beberapa kali dan mengalami ketuban pecah dini pada kehamilan sebelumnya serta jarak kelahiran yang terlampau dekat, diyakini lebih beresiko akan mengalami ketuban pecah dini pada kehamilan berikutnya (Cunningham,2006).

Meski bukan faktor tunggal penyebab ketuban pecah dini namun faktor ini juga diyakini berpengaruh terhadap terjadinya ketuban pecah dini. Yang didukung satu dan lain hal pada wanita hamil tersebut, seperti keputihan, stress (beban psikologis) saat hamil dan hal lain yang memperberat kondisi ibu dan menyebabkan ketuban pecah dini (Cunningham, 2006).

f.       Riwayat  ketubapecadini  sebelumnya  beresiko  2-4  kalmengalami ketuban pecah dini kembali. Patogenesis terjadinya ketuban pecah dini secara singkat ialah akibat adanya penurunan kandungan kolagen dalam membrane sehingga memicu terjadinya ketuban pecah dini dan ketuban pecah dini preterm terutama pada pasien risiko tinggi. Wanita yang mengalami ketuban pecah dini pada  kehamilaatau  menjelang  persalinan  maka  pada  kehamilan  berikutnya wanita yang telah mengalami ketuban pecah dini akan lebih beresiko mengalaminya kembali antara 3-4 kali dari pada wanita yang tidak mengalami ketuban pecah dini sebelumnya, karena komposisi membran yang menjadi mudah rapuh dan kandungan kolagen yang semakin menurun pada kehamilan berikutnya (Cunningham, 2006).
g.      Tekanan  intra  uterin  yang  meningkat  secara  berlebihan  (overdistensi uterus)  misalnya  hidramniodagemeli.  Pada  kelahiran  kembar  sebelu37 minggu sering terjadi pelahiran preterm, sedangkan bila lebih dari 37  minggu lebih sering mengalami ketuban pecah dini (Cunningham, 2006).

Perubahan pada volume cairan amnion diketahui berhubungan erat dengan hasil akhir kehamilan yang kurang bagus. Baik karakteristik janin maupun  ibu dikaitkan dengan perubahan pada volume cairan amnion. Polihidramnion, akumulasi  berlebihan  cairan  amnion  (>  2  liter),  seringkali  terjadi  disertai gangguan kromosom, kelainan struktur seperti fistula trakeosofageal, defek pembuluh saraf dan malformasi susunan sarap pusat akibat penyalahgunaan zat dan diabetes pada ibu. AFI (amnion fluid indeks) pada kehamilan cukup bulan secara normal memiliki rentang antara 5,0 cm dan 23,0 cm (Varney, 2006).
Polihidramnion dapat terjadi akibat kelainan kongenital, diabetes mellitus, janin  besar  (makrosomia),  kehamilan kembar,  kelainan padplasenta dan tali pusat dan penggunaan obat-obatan (misalnya propiltiourasil). Kelainan kongenital yang sering menimbulkan polihidramnion adalah defek tabung neural, obstruksi traktus gastrointestinal bagian atas, dan kelainan kromosom (trisomi 21, 18, 8, 13) komplikasi yang sering terjadi pada polihidramnion adalah malpresentasi janin, ketuban pecah dini, prolaps tali pusat, persalinan pretem dan gangguan pernafasan pada ibu (Sarwono, 2008).

Kehamilan kembar juga sangat penting diidentifikasi sejak dini. Sejumlah komplikasi yang dihubungakan dengan kehamilan, persalinan dan pelahiran serta masa nifas pada wanita yang mengandung lebih dari satu janin. Kemungkinan yang mungkin timbul pada kehamilan kembar adalah anomali janin, keguguran dini,  lahir  hidup,  plasenta  previa,  persalinan  dan  pelahiran  preterm,  diabetes kehamilan, preeklamsi, malpresentasi dan persalinan dengan gangguan.

Pada kehamilan kembar, evaluasi plasenta bukan hanya mencakup posisinya tetapi juga korionisitas kedua janin. Pada banyak kasus adalah mungkin saja menentukan apakah janin merupakan kembar monozigot atau dizigot. Selain itu, dapat juga ditentukan apakah janin terdiri dari satu atau dua amnion. Upaya membedakan ini diperlukan untuk memperbaiki resiko kehamilan. Pengawasan pada   wanit hamil  kemba perl ditingkatkan  untuk   mengevaluasi  resiko persalinan preterm. Gejala persalinan preterm harus ditinjau kembali dengan cermat setiap kali melakukan kunjungan. Wanita dengan kehamilan kembar beresiko tinggi mengalami ketuban pecah dini juga preeklamsi. Hal ini biasanya disebabkan oleh peningkatan massa plasenta dan produksi hormon. Oleh karena itu, akan sangat membantu jika ibu dan keluarga dilibatkan dalam mengamati gejala yang berhubungan dengan preeklamsi dan tanda-tanda ketuban pecah (Varney, 2006).
Kehamilan dengan janin kembar juga akan mempengaruhi kenyamanan dan citra tubuh, kesiapan perawatan bayi dan keuangan, semua faktor ini akan menimbulkan stres dan hendaknya petugas kesehatan lebih banyak memberi konseling dan pendidikan kesehatan. Konseling tentang persalinan pretem dan preeklamsi perlu di upayakan guna memberi perawatan kehamilan dengan janin kembar yang bermutu (Cunninghan, 2006).

h.      Usia  ibu  yangg  20  tahun,  termasuk  usia  yang  terlalu  muda  dengan keadaan uterus yang kurang matur untuk melahirkan sehingga rentan mengalami ketuban pecah dini. Sedangkan  ibu dengan usia ≥35 tahun tergolong usia yang terlalu tua untuk melahirkan khususnya pada ibu primi (tua) dan beresiko tinggi mengalami ketuban pecah dini.

Usia dan fisik wanita sangat berpengaruh terhadap proses kehamilan pertama, pada kesehatan janin dan proses persalinan. World Health Organisation (WHO) memberikan rekomendasi sebagaimana disampaikan Seno (2008) seorang ahli kebidanan dan kandungan dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Sampai sekarang, rekomendasi WHO untuk usia yang dianggap paling aman menjalani kehamilan dan persalinan adalah 20 hingga 30 tahun. Kehamilan di usia kurang dari 20 tahun dapat menimbulkan masalah karena kondisi fisik belum 100% siap.
Beberapa resiko yang bisa terjadi pada kehamilan di usia kurang dari 20 tahun adalah kecenderungan naiknya tekanan darah dan pertumbuhan janin terhambat. Bisa jadi secara mental pun wanita belum siap. Ini menyebabkan kesadaran untuk memeriksakan diri dan kandungannya menjadi rendah. Di luar urusan kehamilan dan persalinan, risiko kanker leher rahim pun meningkat akibat hubungan seks dan melahirkan sebelum usia 20 tahun ini. Berbeda dengan wanita usia 20-30 tahun yang dianggap ideal untuk menjalani kehamilan dan persalinan. Drentang  usia  ini  kondisi  fisik  wanita  dalam  keadaan  prima.  Rahim  sudah mampu memberi perlindungan atau kondisi yang maksimal untuk kehamilan. Umumnya secara mental pun siap, yang berdampak pada perilaku merawat dan menjaga kehamilannya secara hati-hati.

Pendapat Seno (2008), usia 30-35 tahun sebenarnya merupakan masa transisi Kehamilan pada usia ini masibisa diterima asal kondisi tubuh dan kesehatan wanita yang bersangkut an termasuk gizinya, dalam keadaan baik”. Mau tidak  mau,  suka  atatidak  suka,  proses  kehamilan  dan  persalinan  berkaitan dengan kondisi dan fungsi organ-organ wanita. Artinya, sejalan dengan bertambahnya usia, tidak sedikit fungsi organ yang menurun. Semakin bertambah usia,  semakisulit  hamil karena  sel telur  yang  siadibuahi  semakisedikit. Selain itu, kualitas sel telur juga semakin menurun. Itu sebabnya, pada kehamilan pertama di usia lanjut, resiko perkembangan janin tidak normal dan timbulnya penyakit kelainan bawaan juga tinggi, begitu juga kondisi-kondisi lain yang mungkin mengganggu proses kehamilan dan persalinan seperti kelahiran preterm ataupun ketuban pecah dini.

Lebih lanjut Seno (2008) menjelaskan, meningkatnya usia juga membuat kondisi dan fungsi rahim menurun. Salah satu akibatnya adalah jaringan rahim yang  tak  lagi  subur.  Padahal,  dinding  rahitempat menempelnya plasenta. Kondisi ini memunculkan kecenderungan terjadinya plasenta previa atau plasenta tidak menempel di tempat semestinya. Selain itu, jaringan rongga panggul dan otot-ototnya pun melemah sejalan pertambahan usia. Hal ini membuat rongga panggul tidak mudah lagi menghadapi dan mengatasi komplikasi yang berat, seperti perdarahan. Pada keadaan tertentu, kondisi hormonalnya tidak seoptimal usia sebelumnya. Itu sebabnya, resiko keguguran, ketuban pecah, kematian janin, dan ko mplikasi lainnya juga meningkat.

Namun secara umum periode waktu dari ketuban pecah dini sampai kelahiran berbanding terbalik dengan usia gestasi saat ketuban pecah, jika ketubapecah pada trimester ketiga, maka hanya diperlukan beberapa hari saja sehingga pelahiran terjadi dibandingkan dengan trimester kedua (Cunningham, 2006).


3.                  Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini
Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus  dan  peregangaberulang.  Selaput  ketuban  pecah  karena  pada  daerah tertentu terjadi perubahan biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena selaput ketuban rapuh.
Selaput ketuban sangat kuat pada kehamilan muda. Pada trimester tiga selaput ketuban mudah pecah. Melemahnya kekuatan selaput ada hubungannya dengan pembesaran uterus, kontraksi rahim, dan gerakan janin. Pecahnya ketuban pada kehamilan aterm merupakan hal fisiologis. Ketuban pecah dini pada kehamilan prematur disebabkan oleh adanya faktor-faktor eksternal, misalnya infeksi yang menjalar dari vagina (Sarwono, 2008).

Mekanisme ketuban pecah dini ini terjadi pembukaan prematur serviks dan membran terkait dengan pembukaan terjadi devolarisasi dan nekrosis serta dapat diikuti pecah spontan. Jaringan ikat yang menyangga membran ketuban makin berkurang. Melemahnya daya tahan ketuban dipercepat dengan infeksi yang mengeluarkan enzim proteolitik, enzim kolagenase (Manuaba, 2008).

Masa interval sejak ketuban pecah sampai terjadi kontraksi disebut fase laten, makin panjang fase laten, semakin tinggi kemungkinan infeksi. Semakin muda kehamilan, makin sulit pula pemecahannya tanpa menimbulkan morbiditas janin. Oleh karena itu komplikasi ketuban pecah dini semakin meningkat (Manuaba, 2008).

4.      Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang selalu ada ketika terjadi ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina, cairan vagina berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, disertai dengan demam/menggigil, juga nyeri pada perut, keadaan seperti ini dicurigai mengalami amnionitis (Saifuddin, 2002).

Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila ibu duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya mengganjal atau menyumbatkebocoran untuk sementara (Ayurai, 2010).

Ada pula tanda dan gejala yang tidak selalu ada (kadang-kadang) timbul pada ketuban pecah dini seperti ketuban pecah secara tiba-tiba, kemudian cairan tampak diintroitus dan tidak adanya his dalam satu jam. Keadaan lain seperti nyeri uterus, denyut jantung janin yang semakin cepat serta perdarahan pervaginam sedikit  tidak selalu dialami ibu dengan kasus ketuban pecah dini. Namun, harus tetap diwaspadai untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada ibu maupun janin (Saifuddin, 2002).

5.                  Komplikasi
Ada tiga komplikasi utama yang terjadi pada ketuban pecah dini adalah peningkatan morbiditas dan mortalitas neonatal oleh karena prematuritas, komplikasselama  persalinan  dan  kelahiran  yaitresiko  resusitasi,  dan  yang ketiga adanya risiko infeksi baik pada ibu maupun janin. Risiko infeksi karena ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi (Sarwono, 2008).

Sekitar tiga puluh persen kejadian mortalitas pada bayi preterm dengan ibu yang mengalami ketuban pecah dini adalah akibat infeksi, biasanya infeksi saluran pernafasan (asfiksia). Selain itu, akan terjadi prematuritas. Sedangkan, prolaps tali pusat dan malpresentrasi akan lebih memperburuk kondisi bayi preterm dan prematuritas (Depkes RI, 2007).

Dengan tidak adanya selaput  ketuban seperti pada ketuban pecah dini, flora vagina normal yang ada bisa menjadi patogen yang bisa membahayakan baik pada ibu maupun pada janinnya. Morbiditas dan mortalitas neonatal meningkat dengan makin rendahnya umur kehamilan.
Komplikasi pada ibu adalah terjadinya risiko infeksi dikenal dengan korioamnionitis  akibat  jalan  lahir  telah  terbuka,  apalagi  bila  terlalu  sering dilakukan pemeriksaan dalam. Dari studi pemeriksaan histologis cairan ketuban 50%  wanita  yang  melahirkan  prematur,  didapatkan  korioamnionitis  (infeksi saluran ketuban), akan tetapi sang ibu tidak mempunyai keluhan klinis. Infeksi janin dapat terjadi septikemia, pneumonia, infeksi traktus urinarius dan infeksi lokal misalnya konjungtivitis (Sualman, 2009).

Selain itu juga dapat dijumpai perdarahan postpartum, infeksi puerpuralis (nifas), peritonitis, atonia uteri dan septikemia, serta dry-labor. Ibu akan merasa lelah karena berbaring di tempat  tidur, partus akan menjadi lama,  maka suhu badan naik, nadi cepat dan tampaklah gejala-gejala infeksi (Manuaba, 2008).

D.    Penelitian Terkait

Rahayu (2010) dalam penelitiannya mengenai analisis faktor yang berhubungan dengan kejadian KPD di Ruang Bersalin RSD DR. Soebandi Jember-Jawa Timur diperoleh hasil uji statistik berdasarkan Chi Square dan Odds Ratio dimana sebagian besar responden berusia antara 25-34 tahun, hamil tunggal, tidak mengalami kelainan letak, dan multigravida. Uji statistik Chi Square diperoleh hasil tidak ada hubungan antara kelainan letak janin dengan KPD (p value = 0,740 dengan p value=0,05) dan tidak ada hubungan antara multigravida dengan kejadian KPD (nilai p value =0,631 dengan p value = 0,05). Dalam penelitiannya tersebut, disebutkan pula bahwa sosial ekonomi yang rendah merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian ketuban pecah dini.




E.     Kerangka Teori

Kerangka teori pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notomatmodjo, 2010).  Adapun kerangka teori dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1
Kerangka Teori








Sumber: Modifikasi Lawrence Green, Varney, 2002; dan Djoko Waspodo, 2007
Berdasarkan kerangka teori di atas, maka peneliti membatasi penelitian ini pada tingkat ekonomi keluarga dan kejadian ketuban pecah dini yang digambarkan dalam kerangka konsep di bawah ini.

F.     Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau di ukur melalui penelitian yang akan dilakukan. Kerangka konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut (Notoatmodjo, 2002). Dalam penelitian ini ingin mengetahui ada hubungan antara status ekonomi keluarga dengan kejadian ketuban pecah dini.
Gambar 2.2
Kerangka Konsep

Variabel Independen                       Variabel Dependen






G.    Hipotesis

Hipotesa merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap suatu permasalahan penelitian sampai terbukti melalui adanya data yang terkumpul (Arikunto, 1998).  Hipotesa dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Ada hubungan antara status ekonomi keluarga dengan kejadian ketuban pecah dini (KPD) di RSUD Pringsewu tahun 2012” dan “Tidak ada hubungan antara status ekonomi keluarga dengan kejadian ketuban pecah dini (KPD) di RSUD Pringsewu tahun 2012”.















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Desain Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode analitik, yaitu variabel sebab atau risiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur atau dikumpulkan secara simultan (pada waktu bersamaan) (Notoatmodjo, 2005). Desain penelitian ini menggunakan pendekatan potong lintang (cross sectional). Penelitian ini untuk mengetahui hubungan variabel bebas (independen variable) dengan variabel terikat (dependen variable) yaitu ingin melihat hubungan status ekonomi keluarga dengan kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD) pada ibu bersalin di Ruang Kebidanan RSUD Pringsewu tahun 2012.

B.     Variabel Penelitian

1.      Variabel  Independen adalah status ekonomi keluarga
2.      Variabel Dependen adalah Kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD).

C.    Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional adalah suatu penentuan mengenai wujud variabel yang dikaji dalam suatu penelitian. Untuk mengkaji hipotesis, peneliti perlu menentukan atau memastikan variabel apa saja yang dilibatkan dalam penelitian ini.   Definisi operasional bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta mengembangkan instrumen alat ukur. Berdasarkan uraian di atas, maka definisi operasional dalam penelitian ini adalah:
Tabel 3.1
Definisi Operasional

No.
Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat ukur
Hasil Ukur
Skala
Variabel Independen (X)
1.
Status Ekonomi Keluarga
Merupakan pendapatan responden/ keluarga perbulan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

Wawan-cara
Kuesioner
0= >Rp.855.000,-/ bulan (sesuai dengan UMP Provinsi Lampung/ Kabupaten Pringsewu)
1= <Rp.855.000,-/ bulan (sesuai dengan UMP Provinsi Lampung/ Kabupaten Pringsewu)

Sumber: BPS 2012

Nominal
Variabel Dependen (Y)
2.
Kejadian Ketuban Pecah Dini (KPD)
Adalah pecahnya selaput ketuban sebelum adanya tanda- tanda persalinan
Observasi
Cheklist
0= Tidak ada Kejadian KPD
1= Ada Kejadian KPD


Nominal


D.    Populasi dan Sampel

1.      Populasi
Populasi adalah jumlah keseluruhan dari obyek penelitian yaitu jumlah seluruh ibu bersalin yang ada di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pringsewu. Adapun jumlah populasi ibu bersalin pada bulan April-Mei 2012 sebanyak 42 orang ibu bersalin.
2.      Sampel
Sampel adalah sebagian populasi yang diambil dari seluruh objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005). Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang mengalami KPD ada di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pringsewu selama penelitian berlangsung.

Dalam penelitian ini perhitungan besar sampel menggunakan rumus Sofiyudin (2009).

a.       Adapun kesalahan tipe I ditetapkan sebesar 5%, hipotesis satu arah, sehingga Zα=1,64
b.      Adapun kesalahan tipe I ditetapkan sebesar 10%, maka Zβ =1,28.  
r=0,4 (kepustakaan)

Jadi banyaknya sampel 42 ibu bersalin




3.      Kriteria Pengambilan Sampel
a.       Kriteria inklusi
Kriteria Inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target dan terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2008). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah
1)      Seluruh ibu bersalin yang tidak megalami KPD
2)      Seluruh ibu bersali yag megalami KPD
b.      Kriteria eksklusi
Kriteria Eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan studi karena berbagai sebab (Nursalam, 2008). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:
1)      Ibu bersalin yag mempunyai riwayat peyakit
2)      Ibu bersalin yang gemeli
3)      Tidak bersedia menjadi responden

E.     Waktu dan Tempat

Penelitian ini berlokasi di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pringsewu dan waktu penelitian yaitu setelah ujian proposal.

F.     Teknik/Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data terbagi atas pengumpulan data sekunder dan data primer.  Pengumpulan data sekunder adalah dengan cara membagikan kuesioner kepada masing-masing responden atau anggota keluarga responden yang telah ditunjuk atau ditentukan menjadi responden dalam penelitian secara langsung,  pengumpulan data dilakukan secara langsung dengan memberikan pertanyaan terbuka dan tertutup yang harus dijawab oleh responden, semua pertanyaan tersebut tersusun dalam bentuk kuesioner.
G.    Pengolahan Data

Pengolahan data pada penelitian ini melalui 4 tahap yaitu (Hastono, 2001):
1.      Editing Data
Bertujuan untuk meneliti kelengkapan dan kekonsistenan jawaban dari tiap-tiap kuesioner yang telah diisi oleh responden.
2.      Coding Data
Pemberian kode pada atribut kuesioner penelitian untuk memudahkan dalam entri dan analisa data. Untuk kategori kategori status ekonomi keluarga, “1”, jika  penghasilan per bulannya sesuai dengan UMP Kabupaten Pringsewu yaitu >Rp.855.000,- dan “0”, jika  penghasilan per bulannya tidak sesuai dengan UMP Kabupaten Pringsewu yaitu <Rp.855.000,-. Sedangkan untuk kategori kejadian KPD kode “1” jika tidak ada kejadian KPD dan “0” jika ada kejadian KPD.
3.      Scoring Data
Yaitu memberikan skor pada setiap jawaban responden. Pada penelitian ini tidak diberi skor, tetapi dilakukan check list pada lembar kolom yang disediakan. Pemberian skor didasarkan pada nilai  “0” dan  “1” pada tiap masing-masing variabel.
4.      Tabulating Data
Merupakan kegiatan yang mengelompokkan atau menyusun data kedalam tabel yang dibuat sesuai maksud dan tujuan baik secara univariat maupun bivariat dengan menggunakan program SPSS.  Proses tabulating data dimulai dari memasukan data mentah (hasil penelitian) ke dalam lembar kerja Excel yang kemudian dikelompok-kan/disusun sesuai dengan kategori masing-masing variabel dan sub variabel hingga persiapan pengolahan dengan menggunakan program statistik.
5.      Entry Data
Tahap ini dilakukan dengan memasukkan data ke dalam komputer untuk diolah dan dianalisa melalui program komputer.

H.    Analisis Data

1.      Analisis Univariat
Dilakukan untuk mengetahui gambaran hasil penelitian dengan cara membuat tabel distribusi. Tujuan analisis ini untuk menampilkan distribusi frekuensi menurut berbagai variabel yang diteliti serta karakteristik responden.
2.      Analisis Bivariat
Tujuan analisis ini adalah untuk melihat adakah hubungan masing-masing variabel independen dan dependen sekaligus untuk melakukan identifikasi variabel yang bermakna atau tidak yaitu dengan uji Chi-Square. Proses Pengujian Chi Square menurut Hastono (2001) adalah dengan membandingkan frekuensi yang terjadi (observasi) dengan frekuensi harapan (expectacy). untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik digunakan batas kemaknaan 0,05 berarti jika p value <0,05 maka hasilnya bermakna yang artinya Ha diterima dan jika p value >0,05 maka hasilnya tidak bermakna yang artinya Ha di tolak. Analisis statistik Chi Square ini menggunakan program komputer dengan melakukan analisa tabulasi dengan varibel independen. Dengan demikian diketahui hubungan antara variabel bebas yang sudah ditentukan dengan kejadian KPD.
































DAFTAR PUSTAKA



Alimul, Aziz, Hidayat, 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Salemba Medika. Jakarta.

Arif, Mansjoer, dkk, 2000. Kapita Selekta Kedoteraan; Edisi Ketiga. Media Aesculapius. Jakarta.

Arikunto, Suharsimi, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Revisi VI, Rineka Cipta, Jakarta.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Edisi Revisi V. PT. Rineka Cipta. Jakarta.

Ayurai. 2010. Ketuban pecah dini. Diambil tanggal 23 Mei 2012 dari  http://ayurai.wordpress.com/2010/02/15/ketuban-pecah-dini/  

Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu, 2011. Profil Kesehatan Kabupaten Pringsewu. Pringsewu.

Disnakertrans Lampung,  2012. Upah Minimum Provinsi (UMP) Lampung melalui Nomor : G/757/III.05/HK/2011 tentang penetapan Upah Minimum Provinsi Lampung. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Lampung.

F. Gary Cunningham [et al.]. 2006. William Obstetrick, Vol. I. Jakarta: EGC

Hastono, Sutanto Priyo, Analisa Data. FKM-UI, Jakarta 2007.

Kemenkes RI, Profil Kesehatan Indonesia Sehat 2011. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 2011

Manuaba, Ida Bagus Gde. 2008. Gawat-Darurat Obstetri-Gynekologi Sosial  Untuk Profesi Bidan. Jakarta: EGC.

Notoatmodjo Soekidjo, 2003. Pendidikan dan Prilaku Kesehatan, PT Rineka Cipta, Jakarta.

Notoatmodjo, 2005. Soekidjo, Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.

Nursalam. 2008. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: FKUI

Rahayu, Lusiana Dwi. 2010. Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini Di Ruang Bersalin RSD Dr. Soebandi Jember. Skripsi.

Saifuddin, AB, 2003. Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo, Jakarta

Saifuddin, AB., 2002. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,  Yayasan Binas Pustaka, Jakarta.

Siregar, Fitri Amelia, 2011. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Ketuban Pecah  Dini di Rumah Sakit Umum Daerah Padangsidimpuan. Jurusan: Ilmu Keperawatan. Skripsi. Universitas Sumatera Utara.

Sualman, K. 2009. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini. Diambil tanggal 23  Mei 2012 dari http://www. medicastore.com/Penatalaksanaan Ketuban  pecah dini oleh dr. Kamisah Sualman, Fakultas Kedokteran Universitas Riau.

Sugiyono. 2005. Statistika untuk Penelitian. cetakan ketujuh. Alfabeta.Bandung.


Varney, H. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC.

Waspodo, Djoko , JHPIEGO (MNH) & Depkes RI, 2007. Buku Acuan: Asuhan Persalinan Normal. Ikatan Bidan Indonesia. Jakarta.


Untuk Menjaga Hak Cipta Dari Isi Konten WEB Ini
Halaman Tidak Bisa Di copy Paste
Jika Anda Menginginkan Softcopy Atau File Yang Ada Di web Ini
Hubungi Kami Via Facebook
atau Via Email Lryanrc@gmail.com

Related Post