Tuesday, October 9, 2012

LAPORAN DISTOSIA BAHU

By lryan Rc   Posted at  10/09/2012 12:13:00 PM   kesehatan No comments


DISTOSIA BAHU
A.    Pengertian Distosia Bahu
Definisi distosia bahu merupakan hal penting untuk menentukan urutan penatalaksanaan dan langkah yang paling efektif. Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala janin dilahirkan (Saifudin, 2002). Distosia bahu adalah presentasi sefalik dengan bahu anterior terjepit di atas simpisis pubis bukan ke pelvis minor (Varney, 2007). Kejadian distosia bahu ini terkadang tidak dapat diprediksi.
Angka kejadian distosia bahu tergantung pada kriteria diagnosa yang digunakan. Salah satu kriteria diagnosa distosia bahu adalah bila dalam persalinan pervaginam untuk melahirkan bahu harus dilakukan maneuver khusus seperti traksi curam bawah dan episiotomi.

Gross dkk (1987) Dengan menggunakan kriteria diatas menyatakan bahwa dari 0.9% kejadian distosia bahu yang tercatat direkam medis, hanya 0.2% yang memenuhi kriteria diagnosa diatas. Spong dkk (1995) menggunakan sebuah kriteria objektif untuk menentukan adanya distosia bahu yaitu interval waktu antara lahirnya kepala dengan seluruh tubuh. Nilai normal interval waktu antara persalinan kepala dengan persalinan seluruh tubuh adalah 24 detik , pada distosia bahu 79 detik. Mereka mengusulkan bahwa distosia bahu adalah bila interval waktu tersebut lebih dari 60 detik.

American College of Obstetrician and Gynecologist (2002) : angka kejadian distosia bahu bervariasi antara 0.6 – 1.4%.



B.     Etiologi dan Faktor Risiko Distosia Bahu
Tindakan yang baik untuk mencegah terjadinya distosia bahu adalah dengan melakukan antisipasi dan deteksi dini kemungkinan terjadinya distosia bahu. Kemungkinan distosia bahu dapat terjadi bila terdapat faktor risiko sebagai berikut :
1.      Janin besar, yang ditentukan dengan palpasi atau ultrasound yang mendiagnosis makrosomia. Pada makrosomia ( badan besar) diameter bisakromial bahu menjadi lebih lebar daripada diameter kritis pada kepala dan dada serta lingkar bahu lebih lebar dari lingkar kepala. Namun harus diperhatikan bahwa berat badan lahir sendiri bukan alat prediksi distosia bahu. Terdapat 50 sampai 60 persen kejadian distosia bahu pada bayi dengan berat kurang dari 4000 gram.
2.      Diabetes maternal, terutama diabetes kehamilan atau diabetes kelas Atipe 1, karena kemungkinan makrosomia. Bayi dengan ibu diabetes memiliki kemungkinan rasio lingkar bahu-kepala lebih besar dari ibu yang non-diabetes walaupun berat badan sama.
3.      Lewat waktu ( serotinus), karena bayi terus tumbuh, dan menjadi lebih besar seiring peningkatan makrosomia antra minggu ke 40 sampai ke 42 gestasi. Terdapat rasio lingkar bahu-kepala yang lebih besar sejalan pertumbuhan diameter biparietal yang lambat, tetapi tidak pada diameter bahu dan dada.
4.      Riwayat obstetri bayi besar.
5.      Obesitas maternal, bayi yang besar dikombinasikan dengan jaringan ekstra pada ibu obesitas membuat ruang jalan lahir menjadi lebih sempit.
6.      Faktor prediksi varney  tentang perkiraan baret janin yaitu 1 pon atau lebih dari bayi besar sebelumnya. Situasi ini merupakan salah satu yang akan mengalami distosia bahu berat, karena sering kali ini tidak diantisipasi, terutama jika bayi pertama bertany 5 pon dan bayi ini diperkirakan 7 sampai 7 ½ pon.
7.      Riwayat obstetri kesulitan atau distosia bahu sebelumnya.
8.      Disproporsi sepalopelvik :
a.       Bentuk pelvis yang memperpendik diameter anterioposterior
b.      Deformitas pelvis ( mis, akibat kecelakaan atau riketsia)
9.      Fase aktif yang tidak tentu pada kala 1 persalinan. Fase aktif hanya mengalami sedikit kemajuan, wanita hampir tidak mengalami dilatasi serviks dalam batas waktu yang seharusnya setelah meberikan kemajuan persalinan. Pola seperti ini akan menjadikan tanda akan terjadi distosia bahu.
10.  Kala dua persalinan yang memanjang termasuk penurunan kepala yang melambat dan menyiksa serta kegagalan kepala untuk turun tercermin dalam deep transverse arrest.
11.  Ada indikasi perlu rotasi midpelvis/ atau persalinan dengan forcep atau vakum ekstrasor. Ini merupakan faktor predisposisi yang memiliki kemungkinan paling besar akan dikombinasikan dengan bayi besar. Insiden distosia bahu akan mengkat drastis ketika peningkatan berat lahir dikombinasikan dengan kala dua yang memanjang dan pelahiran midpelvis.

C.    Diagnosa Distosia Bahu

Diagnosa distosia bahu ditegakkan ketika bahu hendak dilahirkan dan bahu terjepit  berusaha memesuki pelvis mnor dengan diameter bisakromial dan diameter anteroposterior pintu atas panggul bukan pada diameter oblik kiri atau kanan pintu atas panggul yang ruangnya lebih besar, yang merupakan cara masuk kedalam pelvis selama mekanisme persalinan.
Diagnosa lain yaitu dengan adanya “ Turtle sign”  yaitu retraksi kepala pada perineum dan tampaknya kembali ke vagina.
Diagnosa distosia bahu :
1.    Kepala janin dapat dilahirkan tetapi tetap berada dekat vulva.
2.    Dagu tertarik dan menekan perineum.
3.    Tarikan pada kepala gagal melahirkan bahhu yang terperangkap di belakang simfisis pubis. (Saifudin, 2002)
D.    Diagnosa Potensial dan Komplikasi Distosia Bahu
Insiden dan mortalitas akibat distosia bahu dan penatalaksanaan yang salah mencapai sekitar 15 persen dan meningkat seiiring dengan keparahan distosia bahu dan sejumlah perast yang mencapai sekitar 40%.  Komplikasi janin dan bayi baru lahir termasuk kematian ( kematian intrapartum antara pelahiran kepala dan pelahiran bahu akibat anoksia; atau kematian neonatus akibat cedera terus menerus selama pelahiran bahu), kerusakan otak, fraktur klavikula, paralisis plesusu brakialis. Harus diperhatikan bahwa cedera khusus brakhialis dapat terjadi tanpa didahuluidistosia bahu.
Komplikasi maternal termasuk perdarahan pasca persalinan, fistula rectovaginal, simfisiolisis atau diathesis, dengan atau tanpa “transient femoral neuropathy”  rupture uteri,  laserasi perineum dan vagina yang luas, distres emosional akaibat persalinan traumatis, syok emosional serta rasa berduka jika bayi mengalami cedera atau kematian.

E.     Penatalaksanaan Distosia Bahu
Jumlah waktu yang anda miliki antara pelahiran kepala dan pelahiran bahu sebelum mordibitas atau mortalitas janin kemungkinan besar terjadi, bergantung pada seberapa besar terjadi, bergantung pada seberapa besar bayi telah mengalami gangguan. Jumlah gangguan mungkin telah atau mungkin tidak dievaluasi pada saat pelahiran, dan evaluasi yang dilakukan mungkin lebih atau kurang lengkap dan akurat. Beberapa praktisi menyatakan batas aman yaitu 5 menit sampai 10 menit jika tidak ada gangguan sebelumnya. Kondisi yang terbaik adalah 3 menit menjaga bayi dari trauma kerusakan otak minimal akibat hipoksia. Oleh karena itu diperlukan tindakan yang cepat untuk menangani distosia bahu ( Varney, 2007).
1.      Pertama kali yang harus dilakukan bila terjadi distosia bahu adalah melakukan traksi curam bawah sambil meminta ibu untuk meneran.
2.      Melakukan episiotomi,episiotomi berguna untuk memperlebar jalan lahir.
3.      Perasat McRoberts, atur posisi litotomi maksimal. Perasat McRobert merupkan perasat pertaa yang paling efektif untuk mengurani distosia bahu dengan sedikit cedera pada bayi. Perasat McRoberts juga memberikan ruang luas untuk manipulasi ( Varney, 2007) . Meminta ibu untuk menekuk kedua tungkainya dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya dalam posisi ibu berbaring terlentang. Meminta bantuan 2 asisten untuk menekan fleksi kedua lutut ibu ke arah dada ( Syaifudin, 2002).
4.      Minta asisten, untuk memberikan tekanan suprapubik ketika anda memberi takanan pada sebelah bawah dan luar dari kepala bayi. Tekanan pada bayi harus tangkas dan rapi tidak berlebihan. Kelebihan tenaga atau tarikan pada kepala bayi dapat menyebabkan kelumpuhan syaraf.
5.      Maneuver Woods ( “Wood crock screw maneuver” )
Dengan melakukan rotasi bahu posterior 1800 secara “crock screw” maka bahu anterior yang terjepit pada simfisis pubis akan terbebas. Putar bahu ke salah satu diameter obblik pubis jika berada dalam biameter trasversal atau anteroposterior pada plevis ibu. Kemudian instruksikan wanita tidak mengejan. Untuk memutar bahu, tempatkan semua jari salah satu tangan pada satu sisi dada bayi dan semua jari  tangan andaa yang lain pada punggung bayi. Hal ini akan memberikan area yang lebih luas untuk menggerakkan dan meratakan takanan , dengan demikian menurunkan risiko cedera bayi.
6.      Manuver Rubin
Terdiri dari 2 langkah :
a.       Mengguncang bahu anak dari satu sisi ke sisi lain dengan melakukan tekanan pada abdomen ibu, bila tidak berhasil maka dilakukan langkah berikutnya.
b.       Tangan mencari bahu anak yang paling mudah untuk dijangkau dan kemudian ditekan kedepan kearah dada anak. Tindakan ini untuk melakukan abduksi kedua bahu anak sehingga diameter bahu mengecil dan melepaskan bahu depan dari simpisis pubis

Maneuver Rubin II
a.        Diameter bahu terlihat antara kedua tanda panah
b.      Bahu anak yang paling mudah dijangkau didorong kearah dada anak sehingga diameter bahu mengecil dan membebaskan bahu anterior yang terjepit
 
7.      Melahirkan bahu belakang
a.       Operator memasukkan tangan kedalam vagina menyusuri humerus posterior janin dan kemudian melakukan fleksi lengan posterior atas didepan dada dengan mempertahankan posisi fleksi siku
b.      Tangan janin dicekap dan lengan diluruskan melalui wajah janin
c.        Lengan posterior dilahirkan
8.      Jika pada langkah langkah di atas kondisi janin belum juga dapat dilahirkan. Kemungkinan besar janin akan mengalami anoksia hingga kematian. Jika hal ini terjadi hal yang perlu dilakukan adalah :
a.       Pematahan klavikula dilakukan dengan menekan klavikula anterior kearah SP. Namun bahayanya dalam pematahan clavicula bayi adalah kemungkinan kebocoran paru paru dengan hancurnya tulang dan mengakibatkan pneumothoraks.
b.      Maneuver Zavanelli : mengembalikan kepala kedalam jalan lahir dan anak dilahirkan melalui SC.  Memutar kepala anak menjadi occiput anterior atau posterior sesuai dengan PPL yang sudah terjadi. Membuat kepala anak menjadi fleksi dan secara perlahan mendorong kepala kedalam vagina. Melakukan manuver zavaneulli adalah pilihan terkhir kecuali anda menemukan adanya tumor obstruktif pada pemeriksaan vagina.
c.       Kleidotomi : dilakukan pada janin mati yaitu dengan cara menggunting klavikula.
d.       Simfisiotomi.
Hernandez dan Wendell (1990) menyarankan untuk melakukan serangkaian tindakan emergensi berikut ini pada kasus distosia bahu
1)      Minta bantuan – asisten , ahli anaesthesi dan ahli anaesthesi.
2)      Kosongkan vesica urinaria bila penuh.
3)      Lakukan episiotomi mediolateral luas.
4)      Lakukan tekanan suprapubic bersamaan dengan traksi curam bawah untuk melahirkan kepala.
5)      Lakukan maneuver Mc Robert dengan bantuan 2 asisten.
e.       Sebagian besar kasus distosia bahu dapat diatasi dengan serangkaian tindakan diatas. Bila tidak, maka rangkaian tindakan lanjutan berikut ini harus dikerjakan :
1)      Wood corkscrew maneuver
2)      Persalinan bahu posterior
3)      Tehnik-tehnik lain yang sudah dikemukakan diatas.
Tak ada maneuver terbaik diantara maneuver-maneuver yang sudah disebutkan diatas, namun tindakan dengan maneuver Mc Robert sebagai pilihan utama adalah sangat beralasan.


Lryan Rc

Im Not Perfact But Im Limited Edition.
View all posts by: Lryan Rc

0 comments:

Back to top ↑
Gabung dengan Kami

Followers

Total Pageviews

© 2013 Lryan Rc. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9 Published..Blogger Templates
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.