Wednesday, October 17, 2012

MAKALAH TENTANG MERUMUSKAN DIAGNOSA/ MASALAH AKTUAL PADA IBU MASA NIFAS NORMAL

By lryan Rc   Posted at  10/17/2012 03:37:00 PM   Kumpulan Makalah 1 comment


MAKALAH  TENTANG MERUMUSKAN DIAGNOSA/ MASALAH AKTUAL
PADA IBU MASA NIFAS NORMAL

DISUSUN OLEH
Amalia nur asih
Retmilia r.
Ramadita isnaeni
Sunarni
Tiara m.a
Wahyuni citra n.
Yulisa s.




                                                                                                                                                


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
PRINGSEWU LAMPUNG
D3 KEBIDANAN




BAB 1
PENDAHULUAN



1.1   LATAR BELAKANG
Masa nifas adalah masa atau sejak bayi  sampai 6 minggu berikutnya , disertai dengan pulihnya  kembali organ – organ yang  berkaitan dengan kandungannya, yang  terkadang terdapat   masalah- masalah seperti masalah nyeri, infeksi  yang terkadang membuat ibu cemas.



1.2TUJUAN
   asuhan persalinan normal adalah menjaga kelangsungan hidup dan memberikan              
    derajat kesehatan yang tinggi bagi sibu dan bayinya, melalui upaya yang terintegrasi dan
    lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas
   pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (optimal)













                                                                                                                                                                                               


BAB 2
PEMBAHASAN


7.2 MERUMUSKAN DIAGNOSA/ MASALAH ACTUAL

Berasal dari data – data dasar yang di kumpulkan menginterpretasikan data kemudian diproses menjadi masalah atau diagnosis khusus. Kata masalah dan diagnosis sama – sama digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diidentifikasikan dalam mengembangkan rencana perawatan kesehatan yang menyeluruh. Masalah sering berkaitan dengan bagaimana ibu menghadapi kenyataan tentang diagnosisnya dan ini seringkali bisa diidentifikasi berdasarkan pengalaman bidan dalam mengenali masalah seseorang.

7.2MASALAH NYERI
Nyeri setelah melahirkan disebabkan oleh kontraksi dan relaksasi uterus berurutan yang terjadi secara terus – menerus. Nyeri ini lebih umum terjadi pada wanita dengan paritas tinggi dan pada wanita menyusui. Alasan nyeri lebih berat pada paritas tinggi adalah penurunan tonus otot uterus secara bersamaan menyebabkan intermitten ( sebentar – sebentar ). Berbeda pada wanita primipara, yang tonus uterusnya masih kuat dan uterus tetap berkontraksi tanpa relaksasi intermitten. Pada wanita menyusui, isapan bayi menstimulasi produksi oksitosin oleh hipofisis posterior.
Pelepasan oksitosin tidak memicu refleks let down (pengeluaran ASI) pada payudara, tetapi jugamenyebabkan kontraksi uterus. Nyeri setelah melahirkan akan hilang jika uterus tetap berkontraksi dengan baik, yang memerlukan kandung kemih kosong. Ibu harus diingatkan bahwa pengisian kandung kemih yang sering seiring tubuhnya mulai membuang kelebihan cairan setelah melahirkan akan menyebabkan kebutuhan berkemih yang sering. Kandung kemih yang penuh menyebabkan posisi uterus keatas, menyebabkan relaksasi dan kontraksi uterus yang lebih nyeri.
Jika kandung kemih kosong, beberapa wanita merasa nyerinya cukup berkurang dengan mengubah posisi dirinya berbaring telungkup, dengan bantal atau gulungan selimut diletakkan dibawah abdomen. Kompresi uterus yang konstan pada posisi ini dapat mengurangi kram secara signifikan.
Analgesia yang efektif bagi sebagian besar wanita yang kontraksinya sangat nyeri dapat diperoleh dengan mengutamakan asetaminofen (tylenol) ataupun ibuprofen (motrin).


Meskipun produk yang mengandung aspirin tidak direkomendasikan bagi ibu menyusui karena resiko penurunan hitung trombosit dan dapat menyebabkan sindrom Reye, ibuprofen dan asetaminofen terbukti aman.
Masalah nyeri yang lain juga bisa disebabkan karena luka jahitan bekas laserasi jalan ahir.

7.2.2MASALAH INFEKSI
Infeksi puerperium adalah infeksi bakteri yang berasal dari saluran reproduksi selama persalinan atau puerperium. Infeksi tidak lagi bertanggung jawab terhadap tingginya insiden mortalitas puerperium seperti dahulu, saat lebih dikenal sebagai demam nifas. Akan tetapi, infeksi puerperium masih bertanggung jawab terhadap presentase signifikan morbiditas puerperium.
Beberapa factor predisposisi
  1. Persalinan lama, khususnya dengan pecah ketuban.
  2. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh penderita, seperti perdarahaan banyak, preeklamsia, juga infeksi lain, seperti pnemonia, penyakit jantung, dan sebagainya.
  3. Tindakan bedah vaginal, yang menyebabkan perlukaan pada jalan lahir.
d.      Tertinggalnya sisa placenta, selaput ketuban, dan bekuan darah

Organisme pada infeksi puerperium berasal dari 3 sumber :
  1. organisme yang normalnya berada dalam saluran genetalia bawah atau dalam usus besar.
  2. Infeksi saluran genetalia bawah.
  3. Bakteri dalam nasofaring atau tangan personel yang menangani persalinan atau di udara dan debu lingkungan.
  4. Bakteri dari sumber infeksi pertama adalah bakteri endogen dan menjadi patogaen hanya jika terdapat kerusakan jaringan atau jika terdapat kontaminasi saluran genetalia dari usus besar. Wanita sebaiknya secara rutin di jalani menjalani penapisan terhadap adanya infeksi saluran genetalia bawah dan segera ditangani saat pranatal. Sumber infeksi ketiga paling baik dicegah dengan mencuci tangan dan teknik asepsis yang cermat. Tanda dan gejala infeksi umumnya termasuk peningkatan suhu tubuh, malaise umum, nyeri, dan lokia berbau tidak sedap. Peningkatan kecepatan nadi dapat terjadi, terutama pada infeksi berat. Interpretasi kultur laboratorium dan sensifitas, pemeriksaan lebih lanjut, dan penanganan memerlukan diskusi dan kalaborasi dengan dokter.
7.2.3Masalah cemas
Cukup sering ibu menunjukkan depresi ringan beberapa hari setelah kelahiran. Depresi ringan sekilas tersebut, atau “ biru postpartum “, paling mungkin merupakan akibat se
Penyebab yang menonjol adalah :
(1) kekecewaan, emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang dialami kebanyakan wanita selama kehamilan dan persalinan, jumlah faktor.
(2) Rasa sakit masa awal yang telah diterangkan diatas,
(3) kelelahan karena kurang tidur selama persalinan dan postpartum padak kebanyakan Rumah Sakit,
(4) kekecewaan pada kemampuannya untuk merawat bayinya setelah meninggalkan Rumah Sakit, dan
(5) Rasa takut menjadi tidak menarik lagi bagi suaminya.
Pada sebagian besar kasus, terapi yang efektif tidak perlu apa – apa kecuali antisipasi, pemehaman, dan rasa aman. Seperti ditekankan oleh Robinson dan Stewart (1986), gangguan ringan ini hilang sendiri dan biasanya membaik setelah 2 atau 3 hari, meskipun kadang kala menetap sampai 10 hari. Begitu depresi postpartum menetap, atau bertambah buruk, perlu dipertimbangkan yang khusus untuk mencari gejala – gejala depresi psikotik, yang memerlukan konsultasi cepat. Para wanita khususnya yang rentan terhadap depresi yang lebih berat adalah mereka yang mengalami kesulitan perkawinan yang besar.
Watson dkk (1984) melaporkan bahwa 12 % wanita mengalami gangguan depresif yang secara klinis relevan pada 6 minggu setelah kelahiran, tetapi pada 90 % kasus, aspek situasional atau masalah jangka
Masalah Perawatan Perineum
Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk meyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti waktu sebelum hamil.
Tujuan Perawatan Luka Perinium :
  1. Untuk mencegah terjadinya infeksi di daerah vulva, perineum, maupun di dalam uterus
  2. Untuk penyembuhan luka perinium (jahitan perineum)
  3. Untuk kebersihan perineum dan Vulva



Cara Perawatan Luka Perineum :
  1. Mengisi  botol plastic yang dimiliki dengan air hangat
  2. Mencuci tangannya
  3. Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan kebawah mengarah ke rectum dan letakan pembalut tersebut kedalam kantung plastic
  4. Berkemih dan BAB ke toilet
  5. Semprotkan ke seluruh perineum dengan air
  6. Keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang
  7. Pasang pembalut dari depan ke belakang
  8. Cuci kembali tangan
Masalah payudara
Pada waktu nifas sering terdapat banyak masalah salah satunya dalam menyusui yaitu mastitis. Mastitis adalah peradangan payudara ( abses payudara).payudara menjadi merah, bengkak, kadang kaa diikuti rasa nyeri dan panas , suhu tubuh meningkat. Didalam terasa ada masa padat (lump) dan diluarnya kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah persainan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini disebabkan kurangnya ASI diisap / dikeluarkan atau pengisapan ASI yang tidak efektif . dapat juga karena kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan bajuatau BH.
Masalah ASI eksklusif
ASI Eksklusif (menyusui dengan ASI saja sampai bayi berumur 6 bulan) merupakan nutrisi bagi bayi berupa air susu ibu tanpa memberikan makanan tambahan, cairan, ataupun makanan lainnya, hingga berumur 6 bulan. Manfaat ASI Eksklusif adalah memberikan perlindungan yang diperlukan oleh bayi.Sebaiknya kita ibunya yang mengusahakan produksi ASI bisa meningkat dan mencukupi si bayi.
ASI eksklusif Syaratnya :
1. Hanya memberikan ASI saja sampai enam bulan
2. Menyusui dimulai 30 menit setelah bayi lahir
3. Tidak memberikan cairan atau makanan lain selain ASI, kepada bayi yang baru lahir
4. Menyusui sesuai kebutuhan bayi
5. Berikan kolustrum (ASI yang keluar pada hari pertama yang mempunyai nilai gizi tinggi)
6. Cairan lain yang boleh diberikan hanya vitamin, mineral obat dalam bentuk drop atau sirup adalah :

7.2.4 MASALAH KB
Pada bufas disarankan untuk kb, karena untuk antisipasi  supaya tidak hamil lagi selama dalam masa menyusui. Karena pada masa menyusui anak – anak masih membutuhkan sekali kasih sayang dari orang tuanya. Namun banyak ibu- ibu yang tidak mau kb. Jadi kebanyakan para ibu hamil pada saat dia menyusui.
MASALAH GIZI
Masalah gizi pada bufas adalah masalah kesehatan masyarakat yang penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Masalah gizi disamping merupakan sindroma kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, juga aspek menyangkut aspek pengetahuan dan perilaku yang kurang mendukung pola hidup sehat.

MASALAH TANDA BAHAYA
Infeksi Masa Nifas
Setelah persalinan terjadi beberapa perubahan penting diantaranya makin meningkatnya pembentukkan urin untuk mengurangi hemodilusi darah, terjadi penyerapan beberapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena sehingga terjadi peningkatan suhu badan sekitar 0,5 oC yang bukan merupakan keadaan patologis atau menyimpang pada hari pertama. Perlukaan karena persalinan merupakan tempat masuknya kuman kedalam tubuh, sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas. Infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genitalia pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi 38 oC tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut selama dua hari.
Gambaran klinis infeksi umum dapat dalam bentuk :
1. Infeksi Lokal
1. Pembengkakan luka episiotomi.
2. Terjadi penanahan.
3. Perubahan warna lokal.
4. Pengeluaran lochia bercampur nanah.
5. Mobilisasi terbatas karena rasa nyeri.
6. Temperatur badan dapat meningkat.

2. Infeksi General
1. Tampak sakit dan lemah.
2. Temperatur meningkat diatas 39 oC.
3. Tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat.
4. Pernapasan dapat meningkat dan napas terasa sesak.
5. Kesadaran gelisah sampai menurun dan koma.
6. Terjadi gangguan involusi uterus.
7. Lochia : berbau, bernanah serta kotor

MASALAH SENAM NIFAS            
Kondisi yang umum sebagai akibat dari stress selama kehamilan dan kelahiran, seorang bidan perlu mencermatinya dan kemudian menentukan apakah sesuai atau tidak untuk memulai senam tersebut :
- Pemisahan simphisis pubis.
- Coccyx yang patah atau cidera.
- Punggung yang cidera
- Ketegangan pada ligamen kaki atau otot.
- Trauma perineum yang parah atau nyeri luka abdomen (operasi caesar).
Menurut Varney Halen
Latihan setelah kelahiran bayi dapat dilakukan untuk mengembalikan kondisi tubuh ke keadaan semula dengan mebantu ibu post partum




7.3Merumuskan diagnose
                Berasal dari data – data dasar yang di kumpulkan menginterpretasikan data kemudian diproses menjadi masalah atau diagnosis khusus. Kata masalah dan diagnosis sama – sama digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diidentifikasikan dalam mengembangkan rencana perawatan kesehatan yang menyeluruh. Masalah sering berkaitan dengan bagaimana ibu menghadapi kenyataan tentang diagnosisnya dan ini seringkali bisa diidentifikasi berdasarkan pengalaman bidan dalam mengenali masalah seseorang.
7.3.1 Gangguan perkemihan
Pelvis renalis dan ureter, yang meregang dan dilatasi selama kehamilan, kembali normal pada akhir minggu keempat pascapartum.
Segera setelah pascapartum kandung kemih,edema, mengalami kongesti, dan hipotonik, yang dapat menyebabkan overdistensi, pengosongan yang tidak lengkap, dan residu urine yang berlebihan kecuali perawatan diberikan untuk memastikan berkemih secara periodik. Uretra jarang mengalami obstruksi, tetapi mungkin tidak dapat dihindari akibat persalinan lama dengan kepala janin dalam panggul. Efek persalinan pada kandung kemih dan uretra menghilang dalam 24 jam pertama pascapartum, kecuali wanita mengalami infeksi seluruh saluran kemih.
Sekitar 40 % wanita pascapartum tidak mengalami proteinuria nonpatologis sejak segera setelah melahirkan hingga hari kedua pascapartum. Spesimen urine harus berupa urine yang diambil bersih atau kateterisasi, karena kontaminasi lokia juga akan menghasilkan preeklamsia.
Diuresis mulai segera setelah melahirkan dan berakhir hingga hari kelima pascapartum. Produksi urine mungkin lebih dari 3000 ml per hari. Diuresis adalah rute utama tubuh untuk membuang kelebihan cairan intertisial dan kelebihan volume darah. Hal ini merupakan penjelasan terhadap perpirasi yang cukup banyak yang dapat terjadi selama hari – hari pertama pascapartum.
7.3.2 GANGGUAN BAB
Defekasi atau buang air bersih harus ada dalam 3 hari postpartum. Bila ada obstipasi dan timbul koprostase hingga skibala tertimbun di rectum, mungkin akan terjadi febris.. Dengan diadakannya mobilisasi sedini – dininya, tidak jarang maslah ini dapat diatasi. Di tekankan bahwa wanita baru bersalin memang memerlukan istirahat dalam berjam – jam pertama postpartum, akan tetapi jika persalinan ibu serba normal tanpa kelainan, maka wanita yang baru bersalin itu bukan seorang penderita dan hendaknya jangan dirawat seperti seorang penderita.
7.3.3GANGGUAN HUBUNGAN SEKSUAL
Gangguan pada hubungan seksual , dapat berupa kesalahan teknik sanggama yang menyebabkan penetrasi tak sempurna ke vagina, impotensi, ejakulasi prekoks, vaginismus, kegagalan ejakulasi, dan kelainan anatomik seperti hipospadia, epispadia, penyakit Peyronie.
7.4MERENCANAKAN ASUHAN KEBIDANAN
TUJUAN UMUM
Setelah mengikuti  pembelajaran ini mahasiswa mampu merencanakan asuhan kebidanan pada masa nifas
7.4.1 EVALUASI SECARA TERUS MENERUS
                                                                           

                                                     


7.4.2GANGGUAN RASA NYERI
l  PENENTUAN ASAL GANGGUAN NYERI
l  PENATALAKSANAAN ASAL GANGGUAN NYERI
l  EVALUASI DARI TINDAKAN YANG TELAH DILAKUKAN

7.4.3MENGATASI INFEKSI
l  TINDAKAN à PRINSIP PENCEGAHAN INFEKSI
l  KONSELING à YANG BERPOTENSI UNTUK MENJADI INFEKSI



                                                                                                BAB 3
PENUTUP
 Merumuskan diagnosa / masalah potensial
 Masalah nyeri
Ø
Nyeri setelah persalinan disebabkan oleh kontraksi dan relaksasi uterus berurutan yang terjadi secara terus – menerus. Nyeri ini lebih umum terjadi pada wanita menyusui. Alasan nyeri yang lebih berat pada paritas tinggi adalah penurunan tonus otot uterus secara bersamaan menyebabkan relaksasi intermitten.
 Masalah infeksi
Ø
Infeksi puerperium adalah infeksi bakteri yang berasal dari saluran reproduksi selama persalinan atau puerperium. Beberapa predisposisi :
a. Persalinan lama, khususnya dengan ketuban pecah
b. Semua keadaan yang akan dapat menurunkan daya tahan tubuh penderita, seperti perdarahan banyak, preeklamsia, juga infeksi lain, seperti pneumonia, penyakit jantung, dan sebagainya.
c. Tindakan bedah vaginal, yang menyebabkan perlukaan pada jalan lahir.
d. Tertinggalnya sisa placenta, selaput ketuban, dan bekuan darah.
 Masalah cemas
Ø
Penyebab yang menonjol :
a. Kekecewaan, emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang dialami kebanyakan wanita selama kehamilan dan persalinan.
b. Rasa sakit / nyeri masa nifas.
c. Kelelahan karena kurang tidur selama persalinan dan postpartum pada kebanyakan Rumah Sakit.
d. Kekecewaan pada kemempuannya untuk merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit,
e. Rasa takut menjadi tidak menarik lagi bagi suaminya.

Daftar pustaka

Cunningham, dkk. (1995), Obstetri Williams. Ed. 18 ECG, Jakarta.
http://richylerian.blogspot.com/2012/10/makalah-tentang-merumuskan-diagnosa.html
Mochtar, R. (1998). Sinopsis Obstetri. Ed. 1 & 2 ECG. Jakarta
Saifuddin, BA. (2007). Acuan Nasional Pelayanan kesehatan Maternal & Neonatal. YBP – SP. Jakarta


Jika Anda Menginginkan Softcopy Atau File Yang Ada Di web Ini
Hubungi Kami Via Facebook

atau Via Email Lryanrc@gmail.com

Lryan Rc

Im Not Perfact But Im Limited Edition.
View all posts by: Lryan Rc

1 comments:

Anonymous said...

Even in case you're able to complete so you need to think regarding the tradeoffs paydayloans2013ukyip.co.uk you could be a medic-man, ammo-man, or crowd hostage control.

Back to top ↑
Gabung dengan Kami

Followers

Total Pageviews

© 2013 Lryan Rc. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9 Published..Blogger Templates
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.