Wednesday, December 26, 2012

Makalah PENGELOLAAN TANAMAN TEBU

By lryan Rc   Posted at  12/26/2012 04:37:00 PM   Kumpulan Laporan No comments


PENGELOLAAN TANAMAN TEBU
Oleh :
1. Laras Fitriyani             (110722014)
2. Made Sudiarta             (110722015)
3. Matu Alex Sina            (110722016)
4. Novi Mega Pertiwi       (110722019)
5. Putri Rizki Aryati        (110722018)
6. Putriana                        (110722019)
PROGRAM STUDI
PRODUKSI DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERKEBUNAN
JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN



POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tebu (Saccharum officinarum) adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tanaman tebu hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanamantebu termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman tebu sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai umur sekitar 1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra. Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) adalah satu anggota familiarumput-rumputan (Graminae) yang merupakan tanaman asli tropika basah, namun masih dapat tumbuh baik dan berkembang di daerah subtropika, pada berbagai jenis tanah dari daratan rendah hingga ketinggian 1.400 m diatas permukaan laut (dpl). Tanaman tebu telah dikenal sejak beberapa abad yang lalu oleh bangsa Persia, Cina, India dan kemudian menyusul bangsa Eropa yang memanfaatkan sebagai bahan pangan benilai tinggi yang dianggap sebagai emas putih, yang secara berangsur mulai bergeser kedudukan bahan pemanis alami seperti madu. Berdasarkan catatan sejarah, sekitar tahun 400-an tanaman tebu telahditemukan tumbuh di beberapa tempat di Pulau Jawa, Pulau Sumatera, namun baru pada abad XV tanaman tersebut diusahakan secara komersial oleh sebagian imigran Cina.
Diawali kedatangan bangsa Belanda di Indonesia tahun 1596 yang kemudian mendirikan perusahaan dagang Vereeniging Oost Indische Compagnie (VOC) pada bulan Maret 1602, mulailah terbentuknya industri pergulaan di Indonesia, yang kemudian dipacu dengan semakin meningkatnya permintaan gula dari Eropa pada saat itu. Sejarah Indusri gula di Indonesia, khususnya di Jawa penuh dengan pasang surut. Pada dekade 1930-an industri gula di Indonesia mencapai puncaknya dengan produksi gula sebesar 3 juta ton dengan areal pertanaman seluas 200.000 ha yang terkonsentrasi di Jawa. Pada masa itu terdapat 179 pabrik gula yang mampu memproduksi 14,8 ton gula/ha. Usaha budidaya tebu di Indonesia dilakukan pada lahan sawah berpengairan dan tadah hujan serta pada lahan kering/tegalan dengan rasio 65% pada lahan tegalan dan 35% pada lahan sawah. 
Sampai saat ini daerah/wilayah pengembangan tebu masih terfokus di Pulau Jawa yakni di Provinsi, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI.Yogyakarta dan Jawa Barat yang mengusahakan lahan sawah dan tegalan sebagian areal penanaman tebu. Sedangkan usahatani tebu pada lahan tegalan pengembangannya diarahkan ke Luar Jawa seperti di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan dan Gorontalo. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan usaha industri gula berbasis tebu adalah:
·         Pengelolaan pada aspek on-farm yakni penerapan kaidah teknologi pertanaman yang baik dan benar mulai dari persiapan lahan, pengolahan dan penanaman yang mengikuti kaidah masa tanam optimal,
·         Pemilihan dan komposisi varietas bibit unggul bermutu,
·         Penggunaan, pemeliharaan serta tebang angkut muat (panen).
Dalam budidaya tanaman tebu bibit merupakan salah satu modal (investasi) yang menentukan jumlah batang dan pertumbuhan selanjutnya hingga menjadi tebu giling beserta potansi hasil gulanya. Oleh karena itu penggunaan bibit unggul bermutu merupakan faktor produksi yang mutlak harus dipenuhi. Sehingga Pemerintah merasa perlu mengatur pengawasan peredaran bibit melalui sertifikasiyang merupakan satu proses pemberian sertifikat bibit setelah melalui pemeriksaan, pengujian dan pengawasan untuk persyaratan dapat disalurkan dan diedarkan. Budidaya tebu merupakan upaya menciptakan kondisi fisik lingkungan tanaman tebu, berdasarkan ketersediaan sumberdaya lahan, alat dan tenaga yang memadai agar sesuai dengan kebutuhan pada fase pertumbuhannya, sehingga menghasilkan produksi (gula) seperti yang diharapkan. Budidaya tanaman tebu yang efisien adalah pengelolaan tanaman tebu dengan cara mengusahakan penanaman tebu dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan agroklimat(ketersediaan lahan). Karekteristik agroklimat terdiri dari iklim, kesuburan tanah dan topografi. Budidaya tebu hendaknya menyesuaikan dengan kondisi karakteristik agroklimat di lahan tegalan yang umumnya dijumpai untuk tanaman tebu. Produktifitas tebu ditentukan oleh karakteristik agroklimat yang paling minimum. Budidaya tanaman tebu merupakan faktor penting guna keberlanjutan dari tanaman tebu itu sendiri. Sehingga budidaya tanaman tebu harus diperhatikan dengan baik guna memenuhi produktifitas dan sumber ekonomi.
1.2 Tujuan Praktikum
            Tujuan praktikum ini agar mahasiswa mengetahui tata cara (urutan) pengelolaan tanaman tebu, seperti pengelolaan tanah kebun tebu giling (KTG) dan kebun bibit, seleksi bibit dan penanaman plant cane (PC), menyelenggarakan kebun pembibitan, taksasi produksi dan pemeliharaan tebu (pengelentekan daun), pemeliharaan tanaman tebu (penyulaman, penyiangan, pemupukan, dan pembumbuman), analisis kemasakan batang tebu, dan keprasan (ratoon).

























II.  METODE
2.1 Tempat dan Waktu
Tempat            : Kebun Percobaan Politeknik Negeri Lampung
Waktu              : 15 Minggu
2.2 Alat dan Bahan
Alat                 : cangkul, tali rafia, roll meter, ajir, golok, timbangan, ember, golok tebang, sabit, loupe, jangka sorong, penggaris, sarung tangan karet, kertas saring, brix hidrometer, polarimeter, gilingan tebu, erlemeyer, corong gelas, labu ukur,
Bahan              : tebu, air, Pb asetat,
2.3 Cara Kerja
2.3.1 Pengelolaan tanah kebun tebu giling (KTG) dan kebun bibit
Ø  Ukur lahan sesuai dengan ukuran yang diberikan dosen pembimbing atau teknisi
Ø  Buat batas-batas lahan yang di kerjakan, bersihkan lahan dari tanaman yang ada
Ø  Lakukan pengolahan lahan dengan menggunakan cangkul
Ø  Buat kairan dengan PKP sesuai dengan ukuran yang di tentukan oleh dosen pembimbing
2.3.2 Seleksi bibit dan penanaman plant cane (PC)
Ø  Tebang bibit rata dengan tanah di kebun bibit dan kemudian pucuknya dipotong kira-kira 30 cm dari titik, lalu angkut ke kebun tebu giling
Ø  Bibit di kelentek pelepahnya
Ø  Potong bibit menjadi setek bagal 2 mata, dengan posisi miring 45o, dan hasil potongan tidak boleh pecah
Ø  Tanam bibit setek bagal berdasarkan sistem tanam (end to end, spacing, or over-lapping). Posisi mata tunas berada pada bagian kiri dan kanan.
Ø  Melakukan pemupukan I (pupuk dasar), dengan cara menaburkan pupuk pada dasar kairan. Pupuk yang diaplikasikan adalah N=50%, P=100% dan K=30% dari dosis anjuran (dosis anjuran N=200kg, P=150kg, K=200kg per hektar)
Ø  Tutup bibit dengan tanah setebal 5 cm
2.3.3        Menyelenggarakan kebun pembibitan
Ø  Bud chip diambil dari KBD, kemudian di potong-potong menjadi 1 mata tunas dengan sedikit bagian ruasnya, ditanam pada kasuran atau polibag yang telah disiapkan, dengab jarak antar bibit 10 cm.
Ø  Amati setiap minggu
2.3.4        Taksasi produksi dan pemeliharaan tebu (pengelentekan daun)
1.      Pengelentekan daun tebu
Ø  Tentukan lahan yang akan dikelentek
Ø  Gunakan sarung tangan karet untuk melindungi tangan
Ø  Buang semua daun kering yang melekat pada batang tebu
Ø  Gunakan peralatan untuk membersihkan daun kering dan gulma yang merambat melilit batang tebu
Ø  Setelah kebun benar-benar bersih baru dilakukan taksasi produksi
2.      Taksasi Produksi
Ø  Ukur luas lahan, panjang 1 kairan, PKP, dan lebar lahan yang akan ditaksasi
Ø  Tentukan panjang sampeluntuk pengamatan
Ø  Tentukan jumlah kairan yang akan diamati
Ø  Ambil 2 batang tebu pada setiap sampel pengamatan, kemudian timbang berat batang
Ø  Ukur panjang batang mulai dari pangkal hingga +1
2.3.5        Pemeliharaan tanaman tebu (penyulaman, penyiangan, pemupukan, dan pembumbuman)
Ø  Amati dan catat gulma yang tumbuh di area perkebunan tebu
Ø  Lakukan penyiangan gulma di sekitar tanaman tebu
Ø  Lakukan penyulaman di barisan tanaman yang kosong untuk ditanami dengan bibit baru
Ø  Taburkan pupuk sesuai dosis yang telah ditentukan
Ø  Tutup alur pupuk dengan tanah, sekaligus membumbun barisan tanaman tebu
Ø  Lakukan pengamatan (tinggi tanaman, panjang daun, jumlah daun dan/atau sesuai tabel)
2.3.6        Analisis kemasakan batang tebu
Ø  Siapkan 10 batang tebu yang akan di giling
Ø  Giling tebu dan nira di tampung dengan ember
Ø  Air nira hasil gilingan di timbang
Ø  Saring nira hasil gilingan dengan kain saring
Ø  Laukukan pengukuran brix dengan brix hydrometer
1.      Aduk nira yang disaring, isikan ke dalam tabung winter hingga meluap
2.      Tunggu 1 menit agar kotoran mengendap dan gelembung udara keluar
3.      Celupkan brix hydrometer perlahan agar bagian yang tidak tenggelam tetap kering. Biarkan mengapung bebas dan tidak menyentuh dinding.
4.      Bacalah skala brix dengan cermat, lalu diangkat dan cepat baca suhu niranya.
5.      Lakukan koreksi suhu dengan menggunakan tabel koreksi suhu terhadap pembacaan brix dari brix hydrometer.
Ø  Lakukan pengukuran pol dengan polarimeter
1.      Masukkan 100ml nira sampel kedalam erlemeyer yang berukuran 250ml
2.      Tambahkan 1 gr Pb asetat lalu homogenkan
3.      Saring dengan kertas saring whatman no. 1, jika fitratnya masih keruh, disaring kembali dengan kertas saring whatman no. 3 atau no. 41, fitrat yang dihasilkan harus benar-benar jernih.
4.      Fitrat yang dihasilkan diambil 20 ml, selanjutnya dimasukkan kedalam tabung pol
5.      Baca angka pol dengan alat polarimeter
2.3.7        Keprasan (ratoon)
Ø  Bersihkan kotoran sisa tebangan pada barisan tebu yang akan di kepras
Ø  Setelah barisan tanam bersih, kepraslah tunggul tebu dengan cangkul yang tajam 3-5 cm dibawah permukaan tanah, jangan sampai tunggul yang dikepras pecah.



III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1 Pengolahan Tanah Kebun Tebu Giling (KTG) dan Kebun Bibit
a.       Peralatan tanah (land levelling) merupakan kegiatan yang berkaitan dengan gusur timbun tanah pada petak kebun sehingga permukaan tanah dapat terbentuk dengan kemiringan tertentu yang sesuai dengan syarat kebun tebu. Karena jika permukaan tanah pada kebun tebu bergelombang dan menciptakan genangan air maka dapat merusak (mematikan) bibit tebu.
b.      Bajak (plow) merupakan kegiatan membongkar, membalik dan sekaligus meratakan tanah. Tujuannya antara lain membongkar tumbuhan liar atau tunggul tebu lama agar tidak tumbuh atau mati jika sudah tumbuh. Kedalaman olahan biasanya 40-60 cm.
c.       Penggemburan tanah (subsoiling) bertujuan untuk menghaluskan bongkahan tanah hasil bajakan, sehingga tanah menjadi remah.
d.      Pengkairan (furrowing) merupakan pekerjaan membuat lubang tanam untuk bibit yang akan ditanam. Lubang tanam tebu dibuat memanjang dengan jarak pusat ke pusat (PKP) antara 1,35 m – 1,5 m, dengan kedalaman kairan 30 cm. Kairan yang baik adalah tanah yang membentuk kairan tidak ada bongkahan, lurus dan dasar kairan rata kedalamannya. Selain itu kairan harus mempunyai kasuran agar bibit tumbuh dengan baik dan perakaran berkembang dengan sempurna. Adapun kairan mempunyai macam-macam bentuk dasar (wide base) yaitu bentuk V, W dan U. Bentuk W sering disebut double furrow. Bentuk kairan yang dipilih di sesuaikan dengan jumlah bibit yang akan ditanam atau keinginan populasi yang di harapkan.
1.1 Tabel Data Lahan Kebun Tebu Giling
No.
Uraian Kegiatan
Jumlah dan Satuan
Keterangan
1.
Luas lahan praktik
28,8m2

2.
PKP (jarak tanam)
1,3 m

3.
Kedalaman olah
40 cm

4.
Jumlah kairan
3 kairan

5.
Panjang kairan
8 m

6.
Kedalaman kairan
30 cm

7.
Bentuk kairan
U

8.
Alat dan bahan yang digunakam
cangkul, tali rafia, roll meter, tebu

9.
Tenaga kerja yang digunakan
6 orang

10.
Waktu yang digunakan
120 menit



3.2 Seleksi Bibit dan Penanaman Plant Cane (PC)
            Bibit yang baik adalah berasal dari kebun bibit datar (KBD), karena kemurnian varietasnya sudah jelas, bebas hama penyakit, berumur 6-7 bulan, dan pertumbuhannya optimal. Bibit berumur 6-7 bulan yang berasal dari KBD siap ditebang dan diangkut ke areal tebu giling. Kemudian tebu dikelentek dan dipotong-potong menjadi 3 ruas (3 mata tunas).
            Setelah selesai dipotong-potong menjadi stek bagal 3 mata kemudian siap untuk ditanam. Penanaman dapat dilakukan dengan cara manual atau mekanis (cane planter). Waktu penanaman periode I yaitu akhir musim hujan (April-Juni), sedangkan periode II pada awal musim hujan (oktober-desember). Penanaman dapat dilakukan dengan beberapa sistem tanam yaitu:
a.       End to end, adalah sistem tanam dengan cara meletakkan bibit stek bagal ujung bertemu pangkal
b.      Spacing, adalah menanam tebu dengan cara meletekkan bibit stek bagal yang satu dengan yang lain berjarak 5-10 cm
c.       Over lapping 25-50%, adalah sistem tanam tebu dengan cara meletakkan bibit stek bagal saling tumpang-tindih kurang-lebih 25-50%
d.      Double row, adalah sistem tanam dengan cara meletakkan stek bibit bagal rangkap dua. Adapun tataletak mata tunas saat penanaman berada pada posisi kiri dan kanan, bukan atas dan bawah.
2.1 Tabel Data Pengamatan Pertumbuhan Tanaman Tebu Lahan Kebun Tebu Giling
Variabel Pengamatan
Pengamatan pada ...... Minggu Setelah Tanam (MST)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Bagal Pucuk











Jumlah Mata tunas



47
53
59
67
67
72
72
72
Jumlah hidup (%)











Tinggi Tanaman (cm)



15,4
22,6
23,4
24
31
31,7
40,5
44,2
Panjang daun (cm)



54,6
78
100,6
109,2
136
137
143,3
146,6
Jumlah daun



4
5
6
7
8
8
9
9
Jumlah ruas











Bagal Tengah











Jumlah Mata tunas



37
40
46
54
62
62
62
62
Jumlah hidup (%)











Tinggi Tanaman (cm)



16,4
21,6
22,4
23,2
28
45,3
46,2
52
Panjang daun (cm)



63
89
102
110,2
131
137
143
146
Jumlah daun



5
6
7
7
9
9
9
10
Jumlah ruas











Bagal Pangkal/bawah











Jumlah Mata tunas



19
28
28
28
47
47
47
47
Jumlah hidup (%)











Tinggi Tanaman (cm)



13,7
20,1
22,4
24,7
29
47,2
50
55
Panjang daun (cm)



49
79,8
98,4
115,8
136
140,3
150,7
155
Jumlah daun



4
5
6
8
9
9
9
10
Jumlah ruas












3.3 Menyelenggarakan Kebun Pembibitan
            Pengadaan kebun bibit bertujuan untuk mendapatkan bibit dalam jumlah yang banyak, seragam dan murni varietasnya, dan berkualitas (bebas dari hama dan penyakit dan mempunyai daya kecambah dan pertumbuhan yang tinggi).
Tabel Data Lahan Kebun Bibit
No.
Uraian Kegiatan
Jumlah dan Satuan
Keterangan
1.
Luas lahan praktik
24m2

2.
PKP (jarak tanam)
1,5 m

3.
Kedalaman olah
40 cm

4.
Jumlah kairan
2 kairan

5.
Panjang kairan
6 m

6.
Kedalaman kairan
30 cm

7.
Bentuk kairan
U

8.
Alat dan bahan yang digunakam
cangkul, tali rafia, roll meter, tebu

9.
Tenaga kerja yang digunakan
6 orang

10.
Waktu yang digunakan
120 menit


            Syarat kebun bibit: tanahnya subur, datar, dekat sumber air, dekat dengan jalan, terpisah dari kebun yang lain, dan dekat dengan kebun tebu giling atau kebun tebu yang akan ditanami.
            Tahapan kebun bibit pada budidaya tebu adalah:
a.       Kebun bibit pokok (KBP), adalah kebun bibit tingkat I yang bahan tanamnya berasal dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), atau dari pengembangan varietas introduksi yang sudah lolos seleksi P3GI dari perusahaan perkebunan tebu. Letaknya tersentralisir.
b.      Kebun bibit nenek (KBN), merupakan kebun bibit tingkat II yang bahan tanamnya berasal dari KBP. Letek kebun tersentralisir.
c.       Kebun bibit induk (KBI), yaitu kebun bibit tingkat III yang bahan tanamnya berasal dari KBN, letak KBI tersebar di rayon-rayon atau divisi.
d.      Kebun bibit datar (KBD), adalah kebun bibit tingkat IV, bahan tanamnya berasal dari KBI dan letaknya sudah menyebar dekat dengan KTG, karena KBD merupakan sumber bahan tanam KTG.
Jenis-jenis kebun bibit tersebut mempunyai nilai tangkar. Nilai tangkar atau faktor hasil bibit adalah perbandingan antara luas kebun yang akan ditanami dengan luas kebun bibit. Faktor yang mempengaruhi nilai tangkar adalah jenis tebu, keadaan faktor tumbuh (cuaca, tanah), teknik bercocok tanam dan kerusakan bibit. Untuk mengetahui nilai tangkar dapat dihitung dengan rumus berikut :
P          = nilai tangkar
B         = jumlah batang per rumpun
K         = panjang kairan per hektar pada KBD
T          = tinggi batang
M         = jumlah setek per meter pada KTG
J           = panjang kairan per hektar pada KTG
Adapun jenis (macam-macam) bibit adalah:
a.       Top stek (bibit setek pucuk) adalah bibit yang diambil dari pucuk batang tebu dari tunas yang ada dibawah titik tumbuh sampai 3-5 mata tunas dibawahnya.
b.      Bagal (mentahan) adalah bibit yang berasal dari batang pada kebun bibit datar (KBD), kemudian batang tebu tersebut dipotong-potong menjadi setek 2-3 mata tunas.
c.       Rayungan adalah bibit yang diperoleh dari batang tebu pada kebun bibit datar (KBD) yang telah dipotong/diambil untuk setek pucuk, kemudian ditunaskan. Bibit rayungan : mata tunas, atau satu mata tunas.
d.      Bud chip adalah bibit yang diperoleh dengan cara menyemai hanya satu mata tunas dengan sedikit buku/ruasnya.
e.       Bibit dederan adalah bibit yang diperoleh dengan cara menyemaikan terlebih dahulu dari setek bagal satu mata tunas dan cara menyemaikannya dengan posisi bibit ditidurkan.
f.       Bibit ceblokan adalah bibit setek bagal 3-4 mata tunas yang ditanam dengan cara ditancapkan berdiri atau agak miring. Bibit ini biasanya ditanam pada lahan reynoso (lahan sawah setelah tanam padi).

Variabel Pengamatan
Pengamatan pada ...... Minggu Setelah Tanam (MST)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Polibag I











Jumlah Mata tunas

3
3
3
3
3
3




Jumlah hidup (%)











Tinggi Tanaman (cm)

4,5
5,2
5,5
6,2
6,3
7




Panjang daun (cm)

3,3
9,8
27,3
46,5
60
60,7




Jumlah daun

3
3
5
5
5
5




Jumlah ruas











Polibag II











Jumlah Mata tunas

3
3
3
3
3
3




Jumlah hidup (%)











Tinggi Tanaman (cm)

5
7
7,5
9,1
9,3
9,6




Panjang daun (cm)

2,8
12,8
31,6
50,8
50,9
51,8




Jumlah daun

2
3
5
5
5
5




Jumlah ruas











Polibag III











Jumlah Mata tunas

3
3
3
3
3
3




Jumlah hidup (%)











Tinggi Tanaman (cm)

3
4,5
6
8
8
8,3




Panjang daun (cm)


3,8
22,3
71,5
71,5
75,3




Jumlah daun


2
4
5
6
6




Jumlah ruas











Polibag IV











Jumlah Mata tunas

3
3
3
3
3
3




Jumlah hidup (%)











Tinggi Tanaman (cm)

2
3,2
6,6
8,6
8,6
9




Panjang daun (cm)


7
27,5
49,9
59,4
60,1




Jumlah daun


2
4
5
6
6




Jumlah ruas













3.4  Taksasi Produksi dan Pemeliharaan Tebu (Pengelentekan Daun)
            Pengelentekan yaitu pekerjaan membuang daun-daun tebu tua menjelang panen (tebang). Tujuan pengelentekan adalah untuk memperbaiki mutu tebangan, memperbaiki sirkulasi udara dalam kebun sehingga saat angin kencang tebu tidak mudah roboh.
Pengelentekan
Kairan I           = 56 batang
Kairan II         = 69 batang
Kairan III        = 62 batang   +
                           187 batang
Rumus yang digunakan untuk menghitung perkiraan produksi adalah:
H = Produksi tebu dalam ton atau kwintal per ha
N = jumlah batang tebu per ha
B = berat tebu per meter (kg)
T= tinggi batang tebu (m)
Cara menentukan N menggunakan rumus :

Panjang sampel pengamatan = 30 % dari panjang satu kairan
Jumlah sampel kairan = 5% x jumlah kairan
Penentuan sampel pengamatan = bias lurus atau zigzag
Diketahui :
1 m kairan = 9 batang = 2,41 kg
PKP = 1,5
Panjang kairan = 7m
Panjang kairan per 1 ha = 6666,7 x 7 = 46666,9
46666,9 x 2,41 = 112467,229 kg
= 112,47 ton/ha

3.5   Pemeliharaan Tanaman Tebu
Pemeliharaan tanaman merupakan pekerjaan yang mutlak harus dilakukan guna mendapatkan hasil yang optimal. Tahapan pekerjaan pemeliharaan adalah : penyiangan, penyulaman, pemupukan dan pembumbunan.
Penyulaman dimaksudkan untuk mengisi ruang yang kosong pada alur tanaman akibat bibit nyang ditanam tidak tumbuh atau rusak. Sehingga diharpkan jumlah tanaman perkairan tetap optimal sesuai dengan target produksi yang telah di tetapkan (minimal 13 mata yang tumbuh per m kairan). Penyulaman dilakukan pada tanaman baru (plant cane) yang tingkat kematiannya mencapai 20-30 %, dan atau kairan yang mempunyai GAP lebih dari 30cm. Pelaksanaan penyulaman dilakukan sedini mungkin (umur 1 bulan) guna mengejar pertumbuhan yang seragam.
            Pemupukan bertujuan untuk menambah ketersediaan unsure hara bagi tanaman. Unsure hara yang bias ditambahkan bagi tanaman tebu adalah nitrogen dan kalium. Dosis dan jenis pupuk sangat ditentukan oleh kondisi tanah. Pemupukan pada tebu dilakukan 2 kali yaitu pada saat tanam (pupuk yang diberikan N=50%, P=100%) dan pada saat tanaman berumur 1-1,5 bulan (pupuk yang diberikan N=50%, P=100% dan K=50%)

3.5.1 Pemupukan Plant Cane I
a.      Pupuk urea (N)
b.      Pupuk SP-36 (P)
3.5.2 Pemupukan Plant Cane II
a.      Pupuk urea (N)
b.      Pupuk KCl
3.6 Analisis Kemasakan Batang Tebu
            Nira adalah cairan tebu yang terdiri dari zat padat yang terlarut (brix) dan air. Brix terdiri dari pol dan bukan pol (gula dan bukan gula). Kadar gula yang terdapat di dalam nira di sebut rendemen. Untuk memahami rendemen dan cara penentuannya perlu diketahui derajat pol dan derajat brix.

Derajat pol (pol) adalah jumlah gula (dalam gr) yang ada di dalam setiap 100gr nira.
Derajat brix (brix) adalah jumlah zat padat semua yang larut (dalam gr) pada setiap 100gr nira.
Cara menghitung pol (%), purity, dan rendemen dengan rumus:

Nilai nira (NN) = pol-0,4 (brix-pol)
Diketahui :

Nilai nira (NN) = 46-0,4 (18,5-46)=57

3.7 Keprasan (Ratoon)
            Ratoon (keprasan) adalah tunas tebu baru yang muncul dari mata-mata tunas yang berada di dongkelan rumpun, tepat dibawah bidang potongan batang. Keprasan berasal dari kata ‘kepras’ yakni kegiatan memotong pangkal batang tebu. Tunas-tunas baru yang kemudian tumbuh disebut dengan keprasan, yang dalam bahasa inggris disebut ‘ratoon’. Tujuan dari keprasan adalah mencegah tebu roboh setelah tumbuh. Dengan keprasan (ratoon) bias diperoleh siklus penanaman tebu yang relatif singkat, pengelolaannya lebih murah karena tidak perlu menyediakan bibit tebu baru dan tidak ada pengolahan tanah, dapat memanfaatkan kondisi iklim kering lebih tepat dan masa giling tebu lebih panang karena keprasan biasanya lebih cepat masak dan bias digiling lebih awal.
Pelaksanaan keprasan paling lambat 2 minggu paling lambat yaitu dengan cara memotong tunggul sisa tebang 3-5cm dibawah permukaan tanah.


I.                   KESIMPULAN
Aaaaaaaaaaaaa

II.                DAFTAR PUSTAKA
Indrawati, Wiwik. Dkk. 2012. BPP Pengelolaan Tanaman Tebu. Lampung. Politeknik Negeri Lampung

Lryan Rc

Im Not Perfact But Im Limited Edition.
View all posts by: Lryan Rc

0 comments:

Back to top ↑
Gabung dengan Kami

Followers

Total Pageviews

© 2013 Lryan Rc. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9 Published..Blogger Templates
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.